Kamis, 25 Juni 2026

Sekda Zulkifly Buka Diseminasi Soal Persampahan: Dorong Pemanfaatan Dana Kelurahan

 


Nuansa Terkini Makassar,- Sekretaris Daerah (Sekda) Makassar, Andi Zulkifly, menegaskan pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas utama Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dalam mewujudkan pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.


Hal tersebut disampaikan Sekda Makassar Andi Zulkifly saat membuka kegiatan Diseminasi Kebijakan Pembangunan Perkotaan Tahun 2026 yang mengangkat tema membangun ekosistem pengelolaan persampahan yang terintegrasi melalui sinergi perencanaan, pembiayaan, dan pengelolaan aset daerah melalui pemanfaatan dana kelurahan di Hotel Melia Makassar, Kamis (25/6).


Sekda Makassar, Andi Zulkifly menilai kegiatan tersebut sangat penting dan strategis karena memperkenalkan kebijakan baru pemerintah kota terkait pengelolaan persampahan yang akan didukung melalui dana kelurahan.


“Kegiatan ini sangat penting dan strategis. Karena kita membicarakan pengelolaan persampahan yang akan didukung oleh Pemerintah Kota Makassar melalui dana kelurahan. Ini sesuatu yang baru sehingga perlu diseminasi agar dipahami dan dilaksanakan dengan baik,” ujar Sekda Makassar Andi Zulkifly.


Mantan Camat Ujung Pandang itu meminta seluruh lurah dan aparatur terkait untuk aktif mengikuti kegiatan sosialisasi maupun diseminasi kebijakan pemerintah daerah.


Menurutnya, forum semacam itu menjadi sarana meningkatkan kompetensi sekaligus memahami arah kebijakan baru yang ditetapkan pemerintah kota.


“Kalau ada kegiatan seperti ini, tolong menjadi prioritas untuk dihadiri. Banyak kebijakan baru yang harus diketahui. Selain sebagai tanggung jawab jabatan, ini juga menjadi kesempatan meningkatkan kompetensi dan wawasan,” katanya.


Andi Zulkifly menjelaskan, persoalan sampah menjadi tantangan utama kota-kota besar, termasuk Makassar. Seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, volume sampah juga terus bertambah.


“Semakin meningkat pertumbuhan ekonomi sebuah kota, maka volume sampah juga pasti meningkat. Itu sebuah keniscayaan. Karena masyarakat semakin sejahtera dan konsumsi meningkat, maka sampah yang dihasilkan juga bertambah,” jelasnya.


Ia mengungkapkan Pemkot Makassar saat ini tengah melakukan pembenahan sistem pengelolaan sampah, khususnya di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), untuk mengakhiri praktik open dumping yang telah dilarang dalam regulasi nasional.


Menurutnya, pengelolaan sampah tidak lagi bisa hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan ke TPA, tetapi harus mengedepankan upaya pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.


“Yang paling penting sekarang adalah bagaimana mengurangi sampah yang masuk ke TPA. Caranya melalui pemilahan sampah dan menjadikan sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai manfaat,” ungkapnya.


Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Makassar ini menjelaskan, pemerintah kota telah menyiapkan dua langkah besar dalam penanganan sampah. Pertama, pembenahan TPA melalui sistem Sanitary landfill. Kedua, memperkuat upaya reduksi sampah melalui pemilahan dan pengolahan di tingkat masyarakat.


Namun, menurut Andi Zulkifly, tantangan terbesar bukan pada pembangunan infrastruktur, melainkan mengubah pola pikir dan budaya masyarakat dalam mengelola sampah.


“Yang paling sulit adalah mengubah karakter dan budaya masyarakat. Kita harus mengubah kebiasaan membuang sampah menjadi budaya memilah sampah. Ini membutuhkan kerja bersama dan peran aktif seluruh lurah,” tegasnya.


Untuk mendukung upaya tersebut, kata dia, pihaknya, mengalokasikan sebagian dana kelurahan guna membangun sarana dan prasarana pengelolaan sampah seperti bank sampah, TPS 3R, komposter, hingga fasilitas pengolahan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan wilayah masing-masing.


Andi Zulkifly meminta para lurah melakukan perencanaan secara matang sebelum mengusulkan program agar fasilitas yang dibangun benar-benar dimanfaatkan masyarakat dan berkelanjutan.


“Silakan identifikasi kebutuhan di wilayah masing-masing. Tentukan fasilitas apa yang paling tepat untuk mengurangi sampah. Yang terpenting, fasilitas itu bisa digunakan dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.


Zul--sapaan akrabnya-- juga mendorong lurah untuk menginventarisasi aset atau lahan milik pemerintah yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan TPS 3R maupun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).


Lebih lanjut, Andi Zulkifly menegaskan pengelolaan sampah menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian kinerja lurah oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin. 


“Penilaian utama Pak Wali Kota terhadap kinerja lurah salah satunya terkait pengelolaan sampah. Bukan hanya soal wilayah bersih atau kotor, tetapi bagaimana ekosistem pengelolaan sampahnya berjalan dengan baik dan mampu mengurangi sampah yang masuk ke TPA,” pungkasnya.


Kegiatan diseminasi tersebut diikuti para lurah se-Kota Makassar, camat, serta perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait guna memperkuat sinergi dalam membangun sistem pengelolaan persampahan yang lebih efektif dan berkelanjutan di Kota Makassar. (*)

.



Sekda Makassar Minta Camat Tingkatkan Kompetensi dan Literasi Pertanahan Usai Dilantik sebagai PPATS

 


Nuansa Terkini Makassar,- Sekretaris Daerah (Sekda) Makassar, Andi Zulkifly, meminta para camat yang baru dilantik sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara (PPATS) untuk meningkatkan kompetensi dan pemahaman terkait regulasi pertanahan guna memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.


Hal tersebut disampaikan Sekda Makassar Andi Zulkifly dalam agenda pengangkatan sumpah jabatan dan pelantikan PPATS berkedudukan di Kota Makassar yang berlangsung di Gedung Kantor Pertanahan ATR/BPN Kota Makassar, Kamis (25/6).


Sekda Makassar Andi Zulkifly menegaskan pelantikan tersebut merupakan amanah negara yang memberikan kewenangan kepada camat untuk membantu pelayanan pertanahan di wilayah masing-masing.


“Negara sudah memberikan kewenangan kepada camat untuk melakukan pelayanan pertanahan. Sekarang sudah ada tanggung jawab yang melekat untuk membuat akta autentik terkait pengalihan hak atas tanah yang ada di Kota Makassar,” ujar Andi Zulkifly.


Diketahui, Kepala Kantor Pertanahan ATR/BPN Makassar, Johanis Buapi, melantik 13 camat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara (PPATS).


Dari total 15 kecamatan di Kota Makassar, hanya 13 yang dilantik. Alasannya, satu camat masih berstatus pelaksana tugas (Plt), sementara satu lainnya telah lebih dahulu dilantik karena sudah lama menjabat di wilayahnya.


Ia menjelaskan, status PPATS melekat pada jabatan camat sehingga para camat yang dilantik memiliki tanggung jawab sebagai pejabat negara dalam menjalankan pelayanan pertanahan sesuai ketentuan yang berlaku.


Untuk itu, Andi Zulkifly meminta para camat terus meningkatkan kapasitas dan kompetensi, khususnya terkait regulasi pertanahan dan tugas-tugas PPATS.


“Saya berharap para camat dapat melaksanakan pelayanan dengan sebaik-baiknya sesuai regulasi yang berlaku. Tingkatkan kompetensi, pahami aturan-aturan pertanahan, ikuti pelatihan dan pendidikan yang berkaitan dengan tugas PPATS. Ini bukan pekerjaan yang mudah,” katanya.


Sekda Zulkifly juga meminta Dinas Pertanahan Kota Makassar untuk memfasilitasi pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi para camat agar dapat menjalankan tugas secara profesional.


Selain memberikan pelayanan administrasi pertanahan, para camat juga diminta berperan aktif dalam meningkatkan literasi pertanahan kepada masyarakat.


Menurutnya, masih banyak warga yang belum memahami prosedur pengalihan hak atas tanah sehingga kerap menimbulkan sengketa atau persoalan hukum di kemudian hari.


“Saya berharap para camat membantu melakukan pengawasan terhadap kondisi pertanahan di wilayahnya masing-masing dan meningkatkan literasi masyarakat. Masih banyak masyarakat yang tidak memahami proses pengalihan hak atas tanah sehingga sering terjadi transaksi di bawah tangan yang akhirnya menimbulkan permasalahan,” jelasnya.


Ia menambahkan, kantor kecamatan harus menjadi ruang konsultasi bagi masyarakat yang membutuhkan informasi terkait urusan pertanahan.


“Jangan hanya memberikan pelayanan administrasi, tetapi juga membuka ruang konsultasi bagi masyarakat. Camat harus menjadi tempat masyarakat bertanya dan mendapatkan pemahaman yang benar mengenai persoalan pertanahan,” tegas Andi Zulkifly.


Pada kesempatan tersebut, Sekda juga mengingatkan para camat agar menjaga integritas dan transparansi dalam menjalankan tugas sebagai PPATS. 


Ia menegaskan seluruh biaya atau honorarium dalam pelayanan pertanahan telah diatur dalam ketentuan yang berlaku sehingga harus dijalankan secara terbuka dan akuntabel.


“Saya berharap tugas dan tanggung jawab ini dijalankan dengan penuh integritas. Bangun kolaborasi dan sinergi dengan ATR/BPN serta seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pengawasan dan monitoring persoalan pertanahan di wilayah masing-masing,” tutupnya.


Terpisah, Kepala Kantor Pertanahan ATR/BPN Makassar, Johanis Buapi, berharap para camat yang baru dilantik mampu menjalankan tugas dan kewenangannya secara profesional serta berintegritas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.


“Saya berharap materi yang telah diberikan dalam kegiatan peningkatan kualitas calon PPATS dapat menjadi bekal dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab ke depan,” ujar Johanis.


Menurutnya, keberadaan PPATS memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan administrasi pertanahan, khususnya dalam proses pendaftaran tanah di wilayah masing-masing kecamatan.


Ia menegaskan setelah resmi dilantik, para camat memiliki tanggung jawab untuk membantu pelaksanaan sebagian kegiatan pendaftaran tanah sesuai ketentuan yang berlaku.


“Dengan dilantiknya Bapak dan Ibu sebagai PPATS, berarti memiliki kewajiban untuk melaksanakan sebagian tanggung jawab pendaftaran tanah di wilayah kecamatan masing-masing. Karena itu, mari bekerja secara profesional dan berintegritas dalam melayani masyarakat,” tegasnya.


Johanis juga mendorong para camat untuk terus membangun kolaborasi dengan Kantor Pertanahan Kota Makassar guna meningkatkan kualitas pelayanan publik di bidang pertanahan.


“PPATS merupakan mitra Kantor Pertanahan. Karena itu, sinergi dan kolaborasi yang baik harus terus dibangun agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih efektif, cepat, dan sesuai aturan,” katanya.


Johanis menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh camat yang telah dilantik sebagai PPATS dan berharap amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab.


“Selamat kepada Bapak dan Ibu camat yang telah dilantik sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah Sementara di wilayah kecamatan masing-masing. Semoga amanah ini dapat dijalankan dengan baik demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tutupnya. (*)




Rabu, 24 Juni 2026

Lewat “The Taste and Craft of Makassar”, Delegasi IGS 2026 Jelajahi Kekayaan Budaya dan UMKM Lokal



Nuansa Terkini Makassar,– Delegasi Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 mengunjungi booth pameran Dekranasda Kota Makassar bertema “The Taste and Craft of Makassar” yang digelar di kawasan Tugu MNEK, Anjungan Pantai Losari, Rabu (24/6/2026). 


Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya, kuliner, dan kerajinan khas Kota Makassar kepada para tamu dari berbagai negara.


Setibanya di lokasi, para delegasi disambut dengan suasana pameran yang menampilkan beragam produk unggulan hasil karya pelaku usaha dan pengrajin lokal. 


Salah satu atraksi yang menarik perhatian para tamu adalah demonstrasi pembuatan kain tenun yang dilakukan oleh para perajin.


Selain itu, para tamu juga menyaksikan proses pembuatan kerajinan berbahan dasar enceng gondok yang diolah menjadi berbagai produk.


Di area lainnya, delegasi berkesempatan melihat langsung proses pembuatan bosara, wadah tradisional khas Bugis-Makassar.


Selama berkeliling di area pameran, Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, turut mendampingi para delegasi dan memberikan penjelasan singkat mengenai proses pembuatan setiap produk yang ditampilkan.


Melinda juga menjelaskan nilai budaya yang terkandung di balik berbagai kerajinan tersebut, termasuk upaya pelestarian yang terus dilakukan agar warisan budaya lokal tetap dikenal oleh generasi muda dan masyarakat internasional.


Tak hanya menikmati kerajinan tangan, para delegasi juga diajak mencicipi berbagai kuliner tradisional khas Makassar yang disajikan di sejumlah stan UMKM. Aneka sajian tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu.


Beberapa makanan dan minuman yang diperkenalkan antara lain minuman markisa, barongko, baroncong, apang, kacang telur, serta berbagai kudapan tradisional lainnya yang selama ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner Kota Makassar.


Para delegasi tampak menikmati pengalaman mencicipi langsung makanan khas daerah sambil berdialog dengan para pelaku UMKM mengenai bahan baku dan cara pengolahannya.


Kunjungan kemudian dilanjutkan ke booth Dekranasda Kota Makassar yang menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari wastra, kain tenun, aksesori, hingga berbagai kerajinan tangan hasil karya para pengrajin binaan Dekranasda.


Di booth tersebut, para tamu menunjukkan ketertarikan terhadap sejumlah produk yang dipamerkan. Beberapa delegasi bahkan melakukan transaksi pembelian sebagai bentuk ketertarikan produk lokal Makassar.


Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, mengatakan l keikutsertaan Dekranasda dalam rangkaian Indonesia Gastrodiplomacy Series menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan potensi ekonomi kreatif Kota Makassar kepada dunia internasional.


“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Makassar tidak hanya kaya akan kuliner, tetapi juga memiliki kerajinan tangan dan wastra yang berkualitas. Kami berharap para delegasi dapat membawa kesan positif tentang budaya, kreativitas, dan produk unggulan Makassar ke negara masing-masing,” ujar Melinda.




Lewat “The Taste and Craft of Makassar”, Dekranasda Promosikan Warisan Budaya ke Dunia

 


Nuansa Terkini Makassar,– Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, menyebut Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 sebagai momentum penting untuk membuka babak baru diplomasi budaya sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi kreatif Makassar kepada dunia internasional.


Hal itu disampaikan Melinda saat memberikan sambutan pada kegiatan Exhibition pameran dagang lokal Kota Makassar bertajuk “The Taste and Craft of Makassar” yang digelar di kawasan Tugu MNEK, Anjungan Pantai Losari, Makassar, Rabu (24/6/2026), sebagai bagian dari rangkaian Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026.


Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri Dewan Kerajinan Nasional Indonesia, Katharine Grace Fadli Zon, Spouse of Director General of Information and Public Diplomacy Ministry of Foreign Affairs, Sinta Ekawati Subolo, para delegasi, serta spouse dari berbagai negara peserta IGS 2026.


Dalam sambutannya, Melinda mengatakan pameran tersebut menjadi langkah awal dari perjalanan panjang yang diharapkan mampu meninggalkan warisan berharga bagi Kota Makassar di masa mendatang.


Menurutnya, penyelenggaraan Indonesia Gastrodiplomacy Series bukan hanya ajang promosi budaya dan kuliner, tetapi juga momentum untuk membuka babak baru diplomasi budaya yang memperkuat posisi Makassar di tingkat internasional.


“Ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang kami harapkan akan menjadi warisan berharga bagi Kota Makassar ke depannya. Kami ingin membuka babak baru dalam diplomasi budaya dan menegaskan bahwa Makassar siap menjadi pintu gerbang yang terbuka luas bagi kerja sama antarbangsa,” ujar Melinda.


Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Makassar yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan kepada para perajin tenun tradisional serta pelaku ekonomi kreatif untuk menampilkan karya mereka dalam forum internasional.


Melinda menilai visi strategis Pemerintah Kota Makassar telah menjadi jembatan yang menghubungkan kekayaan budaya lokal dengan peluang ekonomi global yang lebih luas, sekaligus membuka ruang promosi bagi produk-produk unggulan daerah.


Melalui pameran tersebut, berbagai produk kerajinan tangan, tenun tradisional, fesyen, hingga kuliner khas Makassar diperkenalkan kepada delegasi mancanegara sebagai representasi identitas budaya Sulawesi Selatan yang kaya dan beragam.


Sementara itu, Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri Dewan Kerajinan Nasional Indonesia, Katharine Grace Fadli Zon, menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan kegiatan yang mempertemukan unsur budaya, ekonomi kreatif, dan diplomasi dalam satu ruang kolaborasi.


“Makassar merupakan kota yang sejak lama dikenal sebagai gerbang perjalanan di kawasan Indonesia Timur dan menjadi titik pertemuan berbagai budaya, gagasan, serta persahabatan yang terus tumbuh hingga saat ini,” ujarnya.


Menurut Katharine, semangat keterbukaan tersebut tercermin dalam penyelenggaraan pameran “The Taste and Craft of Makassar” yang menghadirkan kekayaan kuliner, kerajinan, serta produk unggulan daerah hasil karya para pelaku usaha dan perajin lokal.


Ia menambahkan bahwa setiap karya yang ditampilkan bukan sekadar produk ekonomi, melainkan juga representasi tradisi, kreativitas, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi serta terus berkembang melalui inovasi para pelaku UMKM.


Melalui kegiatan ini, Dekranasda Kota Makassar berharap produk-produk lokal semakin dikenal di tingkat internasional, memperluas peluang kerja sama ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat peran Makassar sebagai kota yang aktif membangun diplomasi budaya melalui kekayaan warisan dan kreativitas masyarakatnya.




Melinda Aksa Apresiasi Fashion Show Tenun Nusantara dalam Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026



Nuansa Terkini Makassar,– Keindahan wastra Nusantara menjadi sorotan dalam rangkaian Spouse Program Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026 melalui gelaran Fashion Show yang menghadirkan kolaborasi antara Cita Tenun Indonesia dan tiga desainer ternama Tanah Air, yakni The Rizkianto, Rama Dauhan, dan Didi Budiarjo, di Anjungan MNEK, Rabu (24/6/2026).


Peragaan busana yang mengangkat tema besar “The Taste and Craft of Makassar” tersebut menjadi salah satu agenda istimewa dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada para pendamping delegasi dari berbagai negara yang hadir di Kota Makassar.


Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peragaan busana ini merupakan representasi nyata dari pilar Craft yang menjadi bagian penting dalam tema besar kegiatan. 


Menurutnya, setiap karya yang ditampilkan tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menghadirkan kisah, nilai, dan identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.


“Fashion show ini menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui karya-karya tenun yang sarat makna. Setiap helai kain yang ditampilkan membawa cerita tentang tradisi, keterampilan, dan dedikasi para perajin yang telah menjaga warisan budaya bangsa,” ujar Melinda.


Dalam kesempatan tersebut, Melinda mengapresiasi kolaborasi antara Dekranasda Kota Makassar dan Cita Tenun Indonesia yang berhasil menghadirkan pertunjukan mode berkelas dengan tetap mengedepankan nilai-nilai budaya lokal. 


Ia juga memberikan penghargaan kepada para perajin dan penenun tradisional yang terus menjaga kelestarian tenun Nusantara melalui karya-karya berkualitas tinggi.


Fashion show tersebut menampilkan tiga koleksi utama dengan karakter yang berbeda. Koleksi “Berdaya” karya The Rizkianto mengangkat dari nilai-nilai tradisi, dihadirkan untuk perempuan masa kini yang menjadi penggerak perubahan dan penjaga warisan budaya. Sementara koleksi “Terbawa” karya Rama Dauhan menghadirkan perpaduan antara warisan budaya dan sentuhan modern, menghadirkan karya yang berkarakter dan relevan bagi masa kini. Adapun koleksi “Bunga Niguba” karya Didi Budiarjo menampilkan Keanggunan Tenun Sengkang Wajo perpadu manis dengan Bunga Niguba, menghadirkan pesona budaya yang tak lekang oleh waktu.


Melinda menyampaikan kebanggaannya atas keterlibatan para desainer nasional yang mampu mengolah kekayaan tenun Indonesia menjadi karya fesyen kontemporer yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.


“Kami bangga melihat bagaimana para desainer Indonesia mampu menerjemahkan warisan budaya menjadi karya yang modern, elegan, dan memiliki daya saing global. Setiap busana yang diperagakan merupakan cerminan identitas budaya Indonesia yang terus hidup dan berkembang,” katanya.


Menurut Melinda, kehadiran para tamu internasional dalam Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkenalkan kekuatan ekonomi kreatif Indonesia kepada dunia. 


Melalui pendekatan budaya, kuliner, dan kerajinan, Indonesia menunjukkan potensi besar yang dimiliki dalam membangun diplomasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


“Melalui perpaduan mode dan diplomasi ini, kami ingin menegaskan bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya bertumpu pada cita rasa kulinernya, tetapi juga pada karya-karya kreatif anak bangsa. Makassar terus bergerak maju menjadi pusat industri kreatif yang mendunia,” tutupnya.


Gelaran fashion show tersebut mendapat apresiasi dari para tamu dan delegasi yang hadir. Selain menjadi ajang promosi wastra Nusantara, kegiatan ini juga memperkuat posisi Makassar sebagai kota yang aktif mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya serta memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada masyarakat internasional melalui pendekatan yang elegan dan berkesan.

Ketua Dekranasda Makassar Kenalkan Warisan Sutera Sulsel kepada Spouse Delegasi Indonesia Gastrodiplomacy Series 2026



Nuansa Terkini Makassar,– Dekranasda Kota Makassar memperkenalkan kain tradisional sutera sebagai salah satu warisan budaya unggulan Sulawesi Selatan kepada para pendamping delegasi Ind


onesia Gastrodiplomacy Series 2026 dengan berkunjung ke Toko Sutera Indah, Rab u (24/6/2026).


Dalam kunjungan tersebut, Ketua Dekranasda Kota Makassar, Melinda Aksa, mendampingi para spouse atau pendamping delegasi diplomatik dari berbagai negara untuk mengenal lebih dekat salah satu warisan budaya Sulawesi Selatan, yakni kain sutera.


Melinda menjelaskan bahwa sutera bukan sekadar kain tradisional, tetapi juga memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan selama berabad-abad. 


Melalui kunjungan ini, para tamu diperkenalkan pada berbagai jenis tenun sutera dengan motif dan warna khas yang mencerminkan kekayaan budaya daerah.


“Kami ingin memperlihatkan kepada para tamu bahwa Sulawesi Selatan tidak hanya kaya akan sejarah dan kuliner, tetapi juga memiliki warisan kriya yang sangat bernilai. Kain sutera adalah salah satu kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan yang hingga kini terus dilestarikan dan dikembangkan,” ujar Melinda.


Selama berada di lokasi, para spouse tampak antusias melihat beragam koleksi sutera yang dipamerkan. Mereka juga mendapatkan penjelasan mengenai proses pembuatan kain sutera, mulai dari pemilihan benang hingga proses penenunan yang dilakukan secara teliti oleh para perajin lokal.


Tak hanya melihat koleksi yang tersedia, sejumlah delegasi juga tertarik membeli berbagai produk khas Sulawesi Selatan. Kain sutera dengan beragam motif menjadi salah satu produk yang paling diminati. 


Selain itu, para tamu juga membeli berbagai aksesori pendukung busana adat seperti, hiasan kepala baju bodo, bros tradisional, hingga sejumlah produk kerajinan khas daerah lainnya.


Melinda menilai antusiasme para tamu menjadi bukti bahwa produk-produk kriya lokal memiliki daya tarik yang kuat di tingkat internasional. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi kesempatan strategis untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan karya para perajin Sulawesi Selatan kepada dunia.


“Ketika para tamu membawa pulang kain sutera maupun produk kerajinan khas Sulawesi Selatan, mereka juga membawa cerita tentang budaya dan tradisi masyarakat kita. Ini menjadi bentuk promosi budaya yang sangat baik dan membuka peluang lebih luas bagi pengembangan ekonomi kreatif daerah,” katanya.


Melalui kunjungan tersebut, para tamu tidak hanya menikmati keindahan budaya Sulawesi Selatan, tetapi juga berinteraksi langsung dengan produk-produk unggulan hasil karya perajin lokal yang menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah.




Senin, 22 Juni 2026

Polda Sulsel Gelar Bakti Sosial di Pulau Lanjukang Sambut Hari Bhayangkara ke-80




Nuansa Terkini Makassar,- Dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) menggelar kegiatan bakti sosial di Pulau Lanjukang, salah satu pulau terluar Kota Makassar, pada Sabtu (20/06/2026).


Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Sulsel Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sulsel Ny. Upi Djuhandhani, serta Wakapolda Sulsel Brigjen Pol. Dr. Gidion Arif Setyawan, S.I.K., S.H., M.Hum. Turut hadir jajaran Pejabat Utama Polda Sulsel dan Bhayangkari Daerah Sulsel.


Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol. Arya Perdana, serta Kapolres Pelabuhan Makassar AKBP Rise Sandiyantanti.


Rangkaian kegiatan bakti sosial meliputi kerja bakti membersihkan lingkungan Pulau Lanjukang, penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat, serta penyerahan berbagai bantuan guna menunjang kebutuhan warga pulau.


Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyampaikan apresiasi atas perhatian dan kepedulian Polda Sulsel yang telah memilih Pulau Lanjukang sebagai lokasi pelaksanaan bakti sosial menjelang puncak peringatan Hari Bhayangkara ke-80.


Sementara itu, Kapolda Sulsel Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang bertujuan untuk semakin mendekatkan Polri dengan masyarakat.


“Kegiatan ini mencerminkan komitmen Polri untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat secara langsung, termasuk bagi warga yang berada di wilayah kepulauan,” ujar Kapolda.


Kapolda juga menegaskan komitmen Polda Sulsel untuk terus mendukung Pemerintah Kota Makassar dalam pembangunan wilayah kepulauan, khususnya Pulau Lanjukang.


Pada kesempatan tersebut, Kapolda turut mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.


“Mari kita bersama-sama menjaga dan merawat lingkungan yang ada, sehingga Pulau Lanjukang dapat menjadi wilayah yang bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali,” imbaunya.


Melalui kegiatan bakti sosial ini, diharapkan hubungan sinergis antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat semakin erat, sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam mewujudkan wilayah kepulauan yang maju, aman, dan sejahtera.

Fraksi PKB DPRD Makassar Desak Dinas Pendidikan Buka Hasil Seleksi Kepala Sekolah Secara Transparan



Nuansa Terkini Makassar,– Fraksi PKB DPRD Kota Makassar meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar untuk membuka secara transparan hasil seleksi kepala sekolah kepada Komisi D DPRD Kota Makassar.


Permintaan tersebut muncul setelah adanya dugaan intervensi dalam proses penentuan hasil seleksi kepala sekolah yang dinilai tidak berjalan sesuai dengan prinsip objektivitas dan profesionalitas.


Anggota Fraksi PKB DPRD Kota Makassar, Basdir, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima sejumlah laporan dari peserta seleksi maupun masyarakat terkait adanya dugaan campur tangan oknum tertentu dalam proses penetapan kepala sekolah.


Menurutnya, dugaan tersebut perlu segera diklarifikasi oleh Dinas Pendidikan agar tidak menimbulkan polemik berkepanjangan di lingkungan pendidikan Kota Makassar.


"Kami meminta Dinas Pendidikan Kota Makassar untuk transparan memaparkan hasil seleksi kepala sekolah ini ke Komisi D DPRD Makassar sebagai mitra kerja Dinas Pendidikan," ujar Basdir, Selasa (23/6/2026)


Ia menegaskan, keterbukaan informasi sangat penting untuk memastikan bahwa seluruh tahapan seleksi berjalan sesuai aturan dan berdasarkan kompetensi para peserta.


Basdir mengaku menerima informasi bahwa terdapat sejumlah peserta yang memperoleh nilai seleksi cukup baik bahkan masuk dalam kategori unggulan, namun tidak masuk dalam daftar pejabat kepala sekolah yang dilantik.


"Kami mendapatkan laporan ada beberapa peserta yang nilainya bagus, memiliki rekam jejak yang baik, tetapi justru tidak dilantik. Ini menimbulkan pertanyaan di kalangan peserta dan masyarakat. Jangan sampai ada oknum yang bermain dan melakukan intervensi terhadap hasil seleksi," katanya.


Legislator PKB ini menilai, apabila benar terdapat campur tangan pihak tertentu, baik oknum pejabat dinas pendidikan apalagi kalau oknum diluar pemerintahan, maka hal itu dapat merusak kepercayaan publik terhadap sistem seleksi yang selama ini dibangun untuk menghasilkan kepala sekolah yang berkualitas dan berintegritas. Hal tersebut dapat mencoreng citra baik yang selama ini telah di bangun dengan susah payah oleh bapak walikota makassar.


Untuk itu, Fraksi PKB meminta Dinas Pendidikan Kota Makassar memaparkan secara rinci hasil penilaian seleksi, termasuk mekanisme penentuan peserta yang dinyatakan lolos dan akhirnya dilantik menjadi kepala sekolah.


"Kami ingin memastikan bahwa yang terpilih benar-benar berdasarkan kemampuan, kompetensi, dan hasil penilaian yang objektif. Jangan sampai ada pihak-pihak tertentu yang memengaruhi keputusan sehingga merugikan peserta yang memang layak," tegas Basdir.


PKB berharap polemik terkait seleksi kepala sekolah ini dapat segera diselesaikan melalui keterbukaan informasi dari Dinas Pendidikan. Dengan demikian, kepercayaan para tenaga pendidik dan masyarakat terhadap proses pengelolaan pendidikan di Kota Makassar tetap terjaga.


Fraksi PKB juga menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut melalui DPRD Kota Makassar guna memastikan seluruh kebijakan di sektor pendidikan berjalan sesuai prinsip meritokrasi, profesionalisme, dan kepentingan peningkatan mutu pendidikan di Kota Makassar. (*)

Jumat, 19 Juni 2026

Ketua Dewan Lingkungan Hidup Launching Sentra Tukar Sampah dan 50 Urban Farming di Tallo



Nuansa Terkini Makassar,– Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, menghadiri sekaligus mendukung peluncuran Sentra Tukar Sampah dan 50 titik Urban Farming di Kecamatan Tallo, Sabtu (20/6/2026). 


Program yang menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi sirkular dan ketahanan pangan tersebut secara resmi dibuka oleh Staf Ahli I Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Pemerintah Kota Makassar, Akhmad Namsum, yang hadir mewakili Wali Kota Makassar.


Dalam sambutannya, Melinda menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kecamatan Tallo yang dinilai menjadi salah satu wilayah paling progresif dalam menjalankan berbagai program lingkungan hidup di Kota Makassar.


Menurut Melinda, keberhasilan program lingkungan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh kecepatan dan kesungguhan pemerintah wilayah dalam menerjemahkan program tersebut ke tingkat masyarakat.


“Saya mengapresiasi Camat Tallo beserta jajaran yang selalu cepat merespons berbagai program yang dijalankan Pemerintah Kota Makassar. Tallo menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat mampu menghasilkan perubahan yang nyata,” ujarnya.


Melinda menjelaskan, saat ini Pemerintah Kota Makassar tengah mendorong sinergi antara Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Pertanian dan Perikanan untuk membangun sistem ekonomi berkelanjutan yang mampu menghubungkan pengelolaan sampah dengan sektor pertanian perkotaan.


Salah satu langkah nyata yang mulai diwujudkan adalah pengembangan Sentra Tukar Sampah tingkat kecamatan. 


Melalui program tersebut, kontainer-kontainer bekas penanganan Covid-19 yang sudah tidak digunakan akan dialihfungsikan menjadi pusat layanan bank sampah yang lebih mudah dijangkau masyarakat.


“Kecamatan Tallo menjadi wilayah percontohan. Ke depan, kontainer yang sebelumnya digunakan saat pandemi akan dimanfaatkan sebagai Sentra Tukar Sampah sehingga masyarakat lebih mudah mengakses layanan pengelolaan sampah di wilayahnya masing-masing,” jelas Melinda.


Ia mengatakan kehadiran sentra tersebut menjadi solusi atas berbagai keluhan masyarakat terkait lamanya proses transaksi pada bank sampah yang masih terpusat. Dengan adanya bank sampah sektoral di tingkat kecamatan, proses pengumpulan dan penukaran sampah diharapkan menjadi lebih cepat dan efisien.


Selain fokus pada pengurangan sampah, Melinda juga mengapresiasi perkembangan urban farming di Kecamatan Tallo yang terus menunjukkan kemajuan. 


Dari 50 titik yang telah terbentuk, Pemerintah Kecamatan Tallo menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 100 titik dalam waktu dekat.


Menurutnya, urban farming merupakan contoh nyata penerapan ekonomi sirkular yang menghubungkan pengelolaan sampah dengan ketahanan pangan masyarakat.


“Sampah organik yang dikelola dengan baik dapat menjadi kompos, kemudian dimanfaatkan untuk pertanian. Hasil pertanian tersebut kembali memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga. Siklus seperti inilah yang ingin terus kita bangun di Makassar,” katanya.


Melinda juga menekankan pentingnya keterlibatan RT dan RW dalam mengedukasi warga mengenai pemilahan sampah dari rumah tangga. Ia menilai keberhasilan program lingkungan sangat bergantung pada kedekatan para ketua RT dan RW dengan masyarakat.


Ia mencontohkan salah satu RT di Kelurahan Rappokalling yang berhasil mengelola sampah secara mandiri melalui pemanfaatan komposter dan budidaya maggot. 


Upaya yang dilakukan secara konsisten selama 11 minggu tersebut mampu mengurangi timbulan sampah hingga satu ton.


“Ini membuktikan bahwa ketika masyarakat diberikan pemahaman dan fasilitas yang tepat, mereka mampu menjadi bagian dari solusi persoalan sampah,” ungkapnya.


Ia pub mengingatkan bahwa Pemerintah Kota Makassar menargetkan mulai 1 Agustus mendatang hanya sampah residu yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).


“Pengurangan sampah dari sumber menjadi prioritas. Saat ini DLH juga sedang melakukan penutupan lahan TPA seluas 12 hektare yang sudah mengalami kelebihan kapasitas. Karena itu, partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan,” tegasnya.


Sementara itu, Camat Tallo Andi Husni menyampaikan komitmennya untuk terus memperluas program urban farming hingga mencapai 100 lokasi. Ia juga mengembangkan konsep stan urban farming terintegrasi yang diharapkan menjadi pusat edukasi sekaligus pemasaran hasil pertanian warga.


Dalam kesempatan tersebut, Andi Husni mengungkapkan rencana menjadikan Jalan Ade Irma sebagai pusat Pasar Tani dan Pasar Murah mingguan yang juga berfungsi sebagai kawasan olahraga dan Car Free Day bagi masyarakat.


Usai peluncuran program, Ketua Dewan Lingkungan, Melinda bersama rombongan melakukan peresmian Sentra Tukar Sampah yang berlokasi tidak jauh dari lokasi acara. 


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan Pasar Tani Kecamatan Tallo yang menampilkan berbagai hasil urban farming masyarakat.


Melinda tampak berkeliling mengunjungi tenant-tenant yang menjual aneka sayuran, tanaman produktif, serta hasil olahan masyarakat binaan. Ia mengapresiasi semangat warga yang mampu mengembangkan pertanian perkotaan sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi keluarga.


“Pasar tani ini menjadi bukti bahwa gerakan lingkungan tidak berhenti pada pengelolaan sampah saja. Ketika sampah dapat diolah, lahan dapat dimanfaatkan, dan hasilnya memiliki nilai ekonomi, maka manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Ini yang ingin terus kita kembangkan di seluruh wilayah Kota Makassar,” tutup Melinda.


Kegiatan ini turut dihadiri Tim Ahli Pemerinah Kota Makassar Andi Fadly, Anggota Dewan Lingkungan Andi Mashud, Perwakilan Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku Hikmah, Anggota DPRD Kota Makassar Basdir, Camat Tallo Andi Husni, Ketua TP PKK Kecamatan Tallo Dian Friani Husni, Kabid Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Aswin Kartapati, unsur TNI-Polri, para lurah, serta RT dan RW se-Kecamatan Tallo.




Bangun Generasi Peduli Lingkungan, Melinda Aksa Perkuat Kapasitas Guru Adiwiyata



Nuansa Terkini Makassar,– Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, mengajak para kepala sekolah dan guru Sekolah Adiwiyata untuk menjadi pelopor perubahan dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan. 


Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Workshop Pengelolaan Sampah inisiasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar Gelombang II di Hotel Mercure Makassar, Sabtu (20/6/2026).


Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan kepala sekolah dan guru Sekolah Adiwiyata se-Kota Makassar. Workshop tersebut merupakan lanjutan dari gelombang pertama yang sebelumnya melibatkan 100 lurah sebagai peserta.


Dalam sambutannya, Melinda menekankan bahwa sekolah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini. 


Karena itu, materi yang diberikan dalam workshop kali ini disusun secara lebih spesifik agar sesuai dengan kebutuhan peserta dan mampu diterapkan langsung di lingkungan sekolah.


Menurut Melinda, masih ditemukan adanya kesenjangan pemahaman terkait persoalan persampahan, bahkan di lingkungan sekolah yang telah menyandang predikat Adiwiyata. 


Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas guru menjadi langkah penting untuk memperkuat pendidikan lingkungan yang lebih aplikatif dan berkelanjutan.


Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah memasuki fase baru dalam pengelolaan sampah, seiring kebijakan pemerintah pusat yang menghentikan sistem open dumping di seluruh Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menuntut seluruh elemen masyarakat untuk mulai mengelola sampah dari sumbernya.


“Persoalan sampah tidak bisa lagi hanya diserahkan kepada pemerintah. Semua pihak harus terlibat, termasuk sekolah. Perubahan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari,” ujarnya.


Melinda menjelaskan, pengelolaan sampah yang baik juga dapat mendukung program Urban Farming yang tengah dikembangkan Pemerintah Kota Makassar. 


Melalui konsep ekonomi sirkular, sampah organik dapat diolah menjadi kompos untuk kebutuhan pertanian perkotaan, sementara hasil panennya dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.


Sebagai tindak lanjut, ia mendorong sekolah-sekolah untuk menghadirkan inovasi sederhana namun berdampak, seperti pembangunan Teba (Tempat Evakuasi Bahan Organik), penggunaan komposter, hingga budidaya maggot sebagai sarana edukasi lingkungan bagi siswa.


Selain itu, Melinda turut mengajak masyarakat untuk memanfaatkan biopori modern sebagai solusi pengolahan sampah organik rumah tangga, khususnya bagi warga yang memiliki keterbatasan lahan. Metode ini dinilai mudah diterapkan dan efektif mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.


Untuk memastikan ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan, seluruh peserta workshop diberikan tugas membuat video praktik pengelolaan sampah mandiri di rumah masing-masing. 


Menurut Kedtua Dewan Lingkungan itu, pengalaman langsung akan menjadi bekal penting bagi para guru untuk mengedukasi siswa dan orang tua murid secara lebih meyakinkan.


“Ketika kita sudah membiasakan diri mengelola sampah di rumah, maka akan lebih mudah mengajak orang lain melakukan hal yang sama. Edukasi yang paling kuat adalah melalui contoh,” katanya.


Melinda berharap para peserta tidak berhenti pada tataran teori, melainkan mampu menghadirkan perubahan nyata di lingkungan sekolah dan masyarakat. 


Ia optimistis sekolah dapat menjadi pusat lahirnya berbagai inovasi pengelolaan sampah yang mendukung terwujudnya Makassar yang lebih bersih, hijau, dan berkelanjutan.


“Yang kami harapkan bukan sekadar selesai mengikuti workshop, tetapi muncul aksi nyata setelahnya. Sekolah harus menjadi contoh dan penggerak perubahan lingkungan di tengah masyarakat,” tutupnya.




Kamis, 18 Juni 2026

Perkuat Tata Kelola Persampahan, Ketua Dewan Lingkungan Hidup dan DLH Makassar Evaluasi Progres TPA

 



Nuansa Terkini Makassar,– Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, memimpin rapat koordinasi bersama jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar terkait progres pembenahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang berlangsung di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Rabu (17/6/2026).


Agenda ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mempercepat penanganan berbagai persoalan di TPA, salah satunya pembenahan sistem operasional yang mendukung pengelolaan sampah secara optimal.


Dalam arahannya, Melinda Aksa menegaskan bahwa pembenahan TPA harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Menurutnya, perbaikan tidak hanya berfokus pada penanganan masalah yang muncul saat ini, tetapi juga harus mampu menghadirkan sistem yang lebih baik untuk jangka panjang.


“Pembenahan TPA harus dilakukan secara menyeluruh. Kita ingin memastikan seluruh aspek pengelolaan berjalan dengan baik, mulai dari sistem operasional, pengendalian lingkungan, hingga langkah-langkah pencegahan agar tidak ada lagi titik api yang muncul di area TPA,” ujarnya.


Salah satu poin yang menjadi perhatian dalam rapat tersebut adalah pemanfaatan gas metan yang dihasilkan dari timbunan sampah. Melinda menilai potensi gas metan perlu dikelola dan dimanfaatkan secara optimal sehingga tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.


“Gas metan yang dihasilkan dari proses penguraian sampah memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, perlu ada upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatannya sehingga dapat memberi manfaat bagi warga sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik,” jelasnya.


Selain itu, rapat juga menghasilkan kesepakatan bahwa pembenahan di TPA perlu dilakukan secara menyeluruh guna memastikan tidak ada lagi titik api yang muncul. Langkah ini mencakup penguatan pengawasan, perbaikan sistem operasional, serta penanganan berbagai faktor yang berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan.


Melinda juga menekankan pentingnya perbaikan manajemen sistem penutupan sampah dan pendampingan teknis di lapangan. Menurutnya, sistem penutupan yang baik menjadi salah satu kunci dalam menciptakan pengelolaan TPA yang lebih aman, tertata, dan efektif.


“Perlu ada penguatan pada manajemen sistem penutupan maupun pendampingan yang dilakukan di lapangan. Dengan sistem yang lebih tertata, proses penutupan sampah dapat berjalan dengan baik dan mampu meminimalkan berbagai risiko lingkungan yang mungkin terjadi,” katanya.


Melalui koordinasi yang terus diperkuat antara Dewan Lingkungan Hidup dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, diharapkan seluruh proses pembenahan TPA dapat berjalan lebih maksimal, sehingga terwujud pengelolaan sampah yang aman, modern, dan berkelanjutan di Kota Makassar.


Diketahui rapat tersebut dihadiri oleh Kepala Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Sulawesi dan Maluku, para akademisi dan pakar lingkungan dari berbagai perguruan tinggi, sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, para anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, serta perwakilan UPT dan unit teknis yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan dan persampahan.

Rabu, 17 Juni 2026

TP PKK Kota Makassar Gandeng Artani, Kader Praktik Langsung Membuat Eco Enzyme, Sabun Cuci dan Lilin dari Minyak Jelantah



Nuansa Terkini Makassar,— TP PKK Kota Makassar berkolaborasi dengan Artani dalam pelatihan pemanfaatan limbah rumah tangga yang dikemas melalui praktik langsung pembuatan eco enzyme, sabun cuci berbahan eco enzyme, serta lilin dari minyak jelantah. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi.


Kegiatan yang merupakan program kerja Pokja II TP PKK Kota Makassar tersebut mengusung tema “Modifikasi Limbah Jadi Rupiah: Rahasia Ibu Rumah Tangga Mandiri Finansial”. Pelatihan berlangsung di Auditorium PKK Kota Makassar, Kamis (18/6/2026), dan diikuti para kader PKK dari berbagai kecamatan di Kota Makassar.


Selain dihadiri para peserta, kegiatan ini juga dihadiri jajaran pengurus TP PKK Kota Makassar yang memberikan dukungan terhadap program peningkatan keterampilan kader dalam mengelola limbah rumah tangga secara kreatif dan produktif.


Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pelatihan pembuatan eco enzyme yang menghadirkan fasilitator dari Artani, Muhammad Sahir. Materi yang diberikan mencakup pengenalan manfaat eco enzyme hingga tahapan pembuatannya menggunakan bahan dari sampah organik.


Pada pelatihan ini, Artani telah menyiapkan bahan-bahannya agar langsung praktik, berupa kulit buah dan sayuran, pencampuran dengan gula merah serta air, hingga wadahnya.


Tidak hanya itu, peserta juga diperkenalkan pada praktik pembuatan sabun cuci berbahan dasar eco enzyme. Dalam sesi ini, fasilitator menjelaskan cara mengolah cairan eco enzyme menjadi sabun cuci yang ramah lingkungan. Peserta pun berkesempatan mempraktikkan langsung proses pencampuran bahan hingga menghasilkan produk yang siap digunakan.


Memasuki sesi kedua, peserta diberikan edukasi mengenai cara membuat lilin dengan memanfaatkan minyak bekas atau minyak jelantah yang selama ini kerap dibuang begitu saja setelah digunakan untuk memasak.


Dalam sesi tersebut, fasilitator menjelaskan teknik penyaringan minyak jelantah, proses pencampuran bahan, hingga tahapan pencetakan lilin agar menghasilkan produk yang aman dan memiliki nilai jual. Peserta juga diberi kesempatan untuk mempraktikkan langsung proses pembuatannya.


Salah satu peserta, Kartini, kader TP PKK dari Kecamatan Panakkukang, mengaku sangat puas mengikuti pelatihan tersebut. Ia mengatakan banyak pengetahuan baru yang diperoleh selama kegiatan berlangsung.


“Bagus sekali, saya puas karena mendapatkan banyak pengetahuan. Baru kali ini saya tahu kalau eco enzyme bisa dibuat dari bahan-bahan yang gampang didapat di rumah. Saya jadi tertarik untuk mencoba membuatnya sendiri,” ujar Kartini.


Ia juga mengaku baru menyadari bahwa minyak jelantah yang selama ini sering dibuang ternyata dapat dimanfaatkan menjadi lilin. Menurutnya, produk tersebut cukup bermanfaat dan memiliki nilai guna bagi keluarga. 


“Biasanya minyak jelantah dibuang, sekarang ternyata bisa dibuat lilin. Saya mau coba membuatnya di rumah karena bisa digunakan dan juga berpotensi menjadi produk yang bernilai,” katanya.


Sementara itu, peserta lainnya, Wati dari Kecamatan Rappocini, mengaku melihat peluang bisnis dari produk-produk yang diperkenalkan dalam pelatihan tersebut. 


“Eco enzyme dan lilin dari minyak jelantah memiliki potensi pasar yang cukup baik karena memanfaatkan bahan murah, mudah diperoleh, serta sejalan dengan tren gaya hidup ramah lingkungan,” ujarnya.


Sekretaris TP PKK Kota Makassar, Andi Zubaedah Hafid, mengatakan bahwa pelatihan tersebut sejalan dengan upaya TP PKK dalam mendorong pemberdayaan perempuan melalui peningkatan kapasitas dan keterampilan yang aplikatif. 


Ia menilai pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi merupakan langkah yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.


“Kami berharap para kader tidak berhenti pada pelatihan ini saja, tetapi dapat menularkan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat di lingkungannya masing-masing. Jika ditekuni, keterampilan seperti membuat eco enzyme, sabun cuci, dan lilin dari minyak jelantah dapat menjadi peluang usaha yang mendukung kemandirian ekonomi keluarga sekaligus mengurangi jumlah limbah rumah tangga,” tutur Zubaedah.


Sementara itu, Ketua Pokja II TP PKK Kota Makassar, Dra. Indrawaty, mengatakan pelatihan tersebut dirancang untuk memberikan keterampilan praktis kepada kader PKK agar mampu mengolah limbah rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan bernilai jual. Menurutnya, kreativitas dalam mengelola limbah dapat menjadi salah satu cara mendukung ketahanan ekonomi keluarga.


“Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan pengetahuan dan keterampilan yang bisa langsung diterapkan oleh para kader di rumah masing-masing. Harapannya, limbah yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bahkan memiliki nilai ekonomi,” ujar Indrawaty.


Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya dibimbing membuat produk ramah lingkungan, tetapi juga berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan bagi keluarga.




TP PKK Makassar Gandeng Rappo Indonesia, Latih Kader Ubah Limbah Plastik Jadi Produk Bernilai Ekonomi



Nuansa Terkini Makassar,– Tim Penggerak PKK Kota Makassar terus mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga melalui penguatan keterampilan kreatif kader. Kali ini, TP PKK Kota Makassar berkolaborasi dengan Rappo Indonesia Custom Souvenirs & Merchandise menggelar pelatihan pemanfaatan limbah plastik menjadi produk bernilai jual berupa pouch dan tas upcycle.


Kegiatan yang merupakan program kerja Pokja II TP PKK Kota Makassar ini mengusung tema “Modifikasi Limbah Jadi Rupiah: Rahasia Ibu Rumah Tangga Mandiri Finansial” diikuti para kader PKK berbagai kecamatan, berlangsung di Auditorium PKK, Rabu (17/6/2026).


Melalui pelatihan tersebut, peserta diajak mengolah limbah plastik bekas menjadi berbagai produk kreatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Selain memberikan keterampilan teknis, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi untuk membangun pola pikir yang lebih produktif dalam memanfaatkan barang bekas.


Kegiatan dibuka oleh Ketua Bidang II TP PKK Kota Makassar, Dr. Nurdiana Djamaluddin, yang hadir mewakili Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa.


Dalam sambutannya, Nurdiana menyampaikan TP PKK Kota Makassar program ini bertujuan untuk pemberdayaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama perempuan dan keluarga.


Menurutnya, tema yang diangkat bukan sekadar slogan, melainkan gerakan nyata yang mengandung nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan yang sangat relevan dengan kondisi saat ini.


“Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi keluarga saat ini, perempuan dituntut untuk semakin kreatif dalam melihat peluang usaha dan sumber pendapatan tambahan bagi keluarga,” ujarnya.


Ia mengatakan, limbah rumah tangga sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tidak bernilai dan harus dibuang. Padahal, dengan kreativitas dan keterampilan yang tepat, limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.


“Limbah plastik, kertas, kain perca, kemasan bekas, dan bahan lainnya dapat dimodifikasi menjadi kerajinan, aksesori, dekorasi rumah hingga produk usaha yang mampu menghasilkan pendapatan,” jelasnya.


Nurdiana menegaskan semangat kegiatan ini adalah mengubah pola pikir masyarakat dari membuang menjadi memanfaatkan, dari limbah menjadi berkah, serta menjadikan kreativitas sebagai sumber produktivitas ekonomi keluarga.


“Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam mengelola limbah menjadi produk bernilai ekonomi, tetapi juga memperoleh wawasan kewirausahaan, kemampuan membaca peluang pasar, serta motivasi untuk mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” katanya.


Ia juga berharap para peserta dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dengan menularkan ilmu yang diperoleh kepada kader PKK lainnya, kelompok dasawisma, maupun masyarakat sekitar agar manfaat kegiatan dapat dirasakan lebih luas.


Lebih lanjut, Nurdiana menilai bahwa tren ekonomi hijau dan ekonomi kreatif yang berkembang saat ini membuka peluang besar bagi masyarakat untuk menghasilkan produk ramah lingkungan yang bernilai jual.


“Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga dapat mendukung peningkatan pendapatan keluarga dan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga,” tuturnya.


Pada kesempatan tersebut, TP PKK Kota Makassar menghadirkan langsung anggota Rappo Indonesia, Haryani dan Tris, sebagai narasumber dan instruktur pelatihan. Keduanya membimbing peserta dalam proses pembuatan pouch dan tas berbahan dasar plastik bekas melalui teknik upcycle, yakni mengolah kembali limbah menjadi produk baru dengan nilai yang lebih tinggi tanpa melalui proses penghancuran material.


Peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan, mulai dari proses pemilahan bahan, pembersihan limbah plastik, teknik penyusunan pola, hingga proses perakitan menjadi produk siap pakai yang menarik dan memiliki nilai jual.


Sementara itu, Ketua Pokja II TP PKK Kota Makassar, Dra. A. Indrawaty dalam penutupan kegiatan menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas kader PKK dalam mengelola limbah menjadi berbagai produk bernilai guna. 


“Program ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah rumah tangga melalui praktik daur ulang yang terukur dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat jaringan kader PKK lintas kecamatan melalui berbagai kegiatan kolaboratif yang produktif,”


Indrawaty berharap ilmu dan keterampilan yang diperoleh peserta selama pelatihan dapat diterapkan dan dikembangkan di tingkat kecamatan, kelurahan, hingga masyarakat, sehingga dapat mendukung peningkatan ekonomi keluarga dan kepedulian terhadap lingkungan.