Senin, 12 Oktober 2026

Monev Triwulan III, Sekda Makassar Minta SKPD Pacu Realisasi Anggaran

 


Nuansa Terkini Makassar,— Sekretaris Daerah (Sekda) Makassar, Andi Zulkifly, memimpin Rapat Monitoring dan Evaluasi Program/Kegiatan APBD Kota Makassar Triwulan III tahun anggaran 2026 di Ruang Rapat Bappeda, Kantor Balai Kota Makassar, Senin (12/10).


Sekda Makassar Andi Zulkifly didampingi Tim Anggaran Pendapatan Daerah (TAPD) yakni Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Inspektorat, Bagian Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ), serta sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait.

​

Sekda Makassar Andi Zulkifly menegaskan pentingnya efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan rapat evaluasi. Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) ini fokus memanggil empat SKPD yang mencatatkan kinerja realisasi anggaran paling rendah guna mempertajam analisis hambatan.

​

"Kita harus mempertajam analisis terhadap SKPD yang perkembangannya agak lambat dalam merealisasikan belanja dan pendapatan. Target kita, realisasi belanja harus berada di atas 90 persen," tegas Sekda Makassar Andi Zulkifly.


Salah satu SKPD dengan realisasi rendah adalah Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim). SKPD ini mengelola alokasi anggaran sekira Rp63,8 miliar, dengan sekira Rp20 miliar di antaranya dialokasikan untuk program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) atau bedah rumah. 


Belum lagi, Disperkim Makassar juga mendapat tambahan dana insentif prestasi sebesar Rp4 miliar.

​

"Poin utamanya ada di program bedah rumah ini. Saya minta segera direalisasikan. Waktunya memang sampai Desember, tetapi saya minta perkembangan signifikan sudah terlihat pada November mendatang," ujarnya.

​

Di sisi lain, mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Makassar itu mengimbau seluruh instansi untuk mengantisipasi dinamika aturan pengadaan barang dan jasa (PBJ) terbaru dari LKPP. SKPD diminta membentuk tim khusus yang kompeten agar penyesuaian regulasi tidak menjadi hambatan teknis.


"Jangan sampai perubahan aturan menjadi alasan keterlambatan. SKPD harus membentuk tim kecil yang paham aturan pengadaan barang dan jasa. Kami di TAPD bersama Bappeda, BPKAD, dan Bagian PBJ akan terus melakukan pendampingan dan monitoring setiap bulan hingga akhir tahun," tukasnya.

​

Melalui penataan ulang program kegiatan pada APBD Perubahan 2026, Pemkot Makassar optimistis seluruh SKPD mampu menggenjot penyerapan anggaran secara akuntabel, tepat sasaran, dan logis demi mencapai target kinerja pembangunan daerah.


"Kita harap mereka (SKPD) ini bisa meningkatkan realisasi anggarannya dimana targetnya itu diatas 90 persen," jelasnya. (*).




Minggu, 11 Oktober 2026

Hari Terakhir INACRAFT 2026, Dekranasda Makassar Fokus pada Keberlanjutan Pembinaan Perajin Lokal

 


Nuansa Terkini Jakarta,— Memasuki hari terakhir pameran INACRAFT October Vol. 5 2026, Minggu (11/10/2026), Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar menegaskan komitmennya untuk melanjutkan penguatan kapasitas perajin lokal melalui pembinaan, kolaborasi, dan perluasan akses pemasaran.


Pameran yang berlangsung selama lima hari, sejak 7 Oktober di Jakarta International Convention Center (JICC), menjadi bagian dari upaya Dekranasda Kota Makassar bersama Dinas Perdagangan Kota Makassar untuk memperkenalkan keragaman produk kriya daerah sekaligus memperkuat pengembangan industri kerajinan lokal.


Wakil Ketua Harian II Dekranasda Kota Makassar, Rosnani, mengatakan bahwa partisipasi dalam INACRAFT tidak berhenti pada kegiatan promosi. Pengalaman selama pameran juga menjadi bahan untuk menentukan arah pendampingan bagi para perajin ke depan.


“Bagi Dekranasda Kota Makassar, keikutsertaan ini bukan sekadar kesempatan untuk memperkenalkan produk unggulan daerah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi kami untuk melihat perkembangan tren kerajinan, memahami preferensi konsumen, dan membangun perspektif baru dalam mendampingi para perajin di Kota Makassar,” ujarnya.


Menurut Rosnani, langkah berikutnya adalah mengevaluasi produk yang telah ditampilkan dan mengidentifikasi kebutuhan pengembangan perajin, terutama dalam aspek desain, mutu produk, kemasan, identitas merek, hingga strategi pemasaran.


Upaya tersebut merupakan kelanjutan dari sejumlah program yang telah dilaksanakan Dekranasda Kota Makassar, termasuk peningkatan kapasitas perajin (capacity building), pelatihan peningkatan kualitas produk, serta pemasaran digital.


“Kami sudah melaksanakan program capacity building dan pelatihan peningkatan kualitas produk serta digital marketing. Harapan kami, program yang sudah dilakukan mampu mendorong promosi produk kerajinan Makassar secara lebih berkelanjutan, baik melalui pameran, pemanfaatan platform digital, maupun perluasan akses pasar,” jelasnya.


Selain penguatan kapasitas, Dekranasda juga menempatkan kolaborasi sebagai bagian penting dalam pengembangan industri kerajinan. Rosnani menyebut, Dekranasda Kota Makassar telah menjalin kerja sama dengan Cita Tenun Indonesia sebagai salah satu bentuk penguatan jejaring.


Menurutnya, pengembangan kerajinan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perajin, pemerintah, pelaku usaha, desainer, hingga mitra yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan produk kriya lokal.


Rosnani juga menekankan pentingnya memastikan manfaat keikutsertaan dalam pameran nasional dapat menjangkau perajin yang belum memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi secara langsung.


Hasil pembelajaran selama pameran diharapkan dapat diteruskan melalui kegiatan pembinaan, diskusi, pendampingan, dan penguatan kapasitas. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh tidak hanya menjadi catatan bagi peserta pameran, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh perajin lainnya di Kota Makassar.


“Prinsipnya, Dekranasda ingin membangun pembinaan yang inklusif. Kesempatan untuk berkembang harus terbuka bagi lebih banyak perajin, termasuk pelaku usaha kecil yang masih membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan pasarnya,” ungkapnya.


Pengembangan katalog produk dan optimalisasi promosi digital juga menjadi bagian dari upaya yang ingin didorong agar pemasaran kerajinan Makassar tidak hanya bergantung pada keikutsertaan dalam pameran fisik.


Menutup partisipasi pada INACRAFT 2026, Rosnani berharap pengalaman selama lima hari pameran dapat memperkuat upaya Dekranasda dalam membangun industri kerajinan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas budaya daerah.


“Komitmen Dekranasda Kota Makassar adalah terus mendorong pembinaan, promosi, kolaborasi, dan perluasan akses pasar bagi para perajin sesuai dengan program dan kapasitas yang tersedia,” tuturnya.


Ia berharap pengembangan kerajinan lokal tidak hanya berorientasi pada penampilan produk dalam pameran, tetapi juga mampu memberikan manfaat jangka panjang terhadap keberlanjutan usaha, peningkatan kesejahteraan perajin, dan penguatan ekonomi kreatif Kota Makassar.

Jumat, 09 Oktober 2026

Serah Terima Pataka Pallawa Lipu Polda Sulsel, Djuhandani Berpamitan dan Awal Chairuddin Siap Emban Amanah

 


Nuansa Terkini Makassar,— Upacara serah terima Pataka Pallawa Lipu Polda Sulawesi Selatan digelar pada Jumat (9/10/2026) sebagai bagian dari rangkaian serah terima jabatan (sertijab) Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Selatan. Momentum tersebut menandai peralihan kepemimpinan dari Irjen Pol Djuhandani Raharjo Puro, S.H., M.H., kepada Kapolda Sulsel yang baru, Irjen Pol Dr. M. Awal Chairuddin, S.I.K., M.H.


Upacara ini tidak sekadar menjadi simbol pergantian kepemimpinan, tetapi juga menegaskan kesinambungan pengabdian Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat Sulawesi Selatan.


Dalam sambutannya, kedua pejabat menyampaikan pesan tentang pentingnya loyalitas, profesionalisme, sinergi, dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas kepolisian.


Djuhandani: Sulawesi Selatan Akan Selalu Dikenang


Dalam sambutan perpisahannya, Irjen Pol Djuhandani Raharjo Puro menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada seluruh personel Polda Sulsel serta masyarakat yang telah memberikan dukungan selama dirinya bertugas di Sulawesi Selatan.


Ia mengungkapkan, meskipun masa tugasnya relatif singkat, sekitar setengah bulan, pengalaman memimpin Polda Sulsel memberikan kesan mendalam dalam perjalanan pengabdiannya sebagai anggota Polri.


“Kurang lebih setengah bulan saya berada di Polda Sulawesi Selatan. Saya bangga memimpin Polda Sulawesi Selatan, Bumi Anging Mammiri tercinta ini, serta dapat diterima dengan tangan terbuka oleh segenap unsur dan lapisan masyarakat,” ungkapnya.


Djuhandani juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Polda Sulsel atas dukungan, sinergi, dedikasi, dan loyalitas dalam menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif.


Menurutnya, soliditas dan kerja sama seluruh jajaran kepolisian merupakan faktor penting dalam mendukung kelancaran pelaksanaan berbagai agenda nasional maupun daerah.


Pada kesempatan tersebut, Djuhandani menyatakan bahwa masa tugasnya di wilayah hukum Polda Sulawesi Selatan telah berakhir. Ia pun berpamitan sekaligus memohon doa untuk menjalankan amanah dan tugas baru.


“Saya mohon pamit, mohon doa untuk tugas yang baru, serta diizinkan saya menyampaikan permohonan maaf yang sepenuh hati kepada seluruh keluarga besar Polda Sulawesi Selatan, jajaran Korem, dan segenap lapisan masyarakat Sulawesi Selatan,” tuturnya.


Ia menegaskan bahwa Sulawesi Selatan bukan sekadar tempat menjalankan tugas kedinasan, melainkan bagian dari perjalanan pengabdian yang akan selalu dikenang.


Titip Pesan Loyalitas dan Pengabdian kepada Kapolda Baru


Kepada Kapolda Sulsel yang baru, Irjen Pol Dr. M. Awal Chairuddin, Djuhandani menyampaikan ucapan selamat bertugas. Ia berharap seluruh personel kepolisian dan masyarakat dapat memberikan dukungan agar kepemimpinan baru dapat berjalan dengan baik.


Ia juga berpesan kepada seluruh personel Polda Sulsel agar senantiasa menjaga kesetiaan dan pengabdian kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Presiden Republik Indonesia, Kapolri, serta Kapolda Sulawesi Selatan yang baru.


Menurutnya, loyalitas tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui pelaksanaan tugas yang profesional, penuh tanggung jawab, serta mengutamakan kepentingan bangsa dan negara.


Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa pergantian kepemimpinan harus tetap diiringi dengan komitmen menjaga soliditas institusi dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.


Awal Chairuddin: Jabatan Kapolda Adalah Amanah


Sementara itu, Kapolda Sulawesi Selatan yang baru, Irjen Pol Dr. M. Awal Chairuddin, S.I.K., M.H., menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas kepercayaan dan amanah yang diberikan kepadanya untuk memimpin Polda Sulawesi Selatan.


Ia menegaskan bahwa jabatan Kapolda bukan sekadar kedudukan atau kewenangan, melainkan tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh demi memberikan manfaat bagi masyarakat.


“Jabatan Kapolda Sulawesi Selatan yang baru merupakan suatu karunia dari Allah Subhanahu Wata’ala yang harus saya syukuri bersama keluarga, karena jabatan ini bagi saya merupakan amanah yang harus dilaksanakan agar dapat memberikan manfaat dan membawa berkah bagi masyarakat Sulawesi Selatan,” ujarnya.


Sebagai putra daerah Sulawesi Selatan, Awal Chairuddin menyatakan komitmennya untuk menjalankan tugas dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal yang selaras dengan prinsip pelayanan, perlindungan, dan pengayoman masyarakat.


Ia menggambarkan peran kepolisian sebagai garda terdepan dalam melindungi negeri, menjaga lingkungan masyarakat, dan membela tanah air. Menurutnya, semangat tersebut harus tercermin dalam sikap kepedulian, penghormatan terhadap sesama, nilai kemanusiaan, serta keberanian untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.


Ia juga menekankan pentingnya kebersamaan dan kearifan lokal Sulawesi Selatan sebagai landasan dalam membangun hubungan yang harmonis antara Polri dan masyarakat.


Apresiasi atas Kepemimpinan Kapolda Sebelumnya


Dalam sambutannya, Awal Chairuddin turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Irjen Pol Djuhandani Raharjo Puro atas pengabdian dan kepemimpinannya selama bertugas di Polda Sulawesi Selatan.


Ia menilai berbagai upaya yang telah dilakukan oleh kepemimpinan sebelumnya turut berkontribusi dalam menjaga situasi kamtibmas di wilayah hukum Polda Sulsel.


Menurutnya, kemampuan jajaran kepolisian dalam mengendalikan berbagai gangguan keamanan serta mengungkap kasus-kasus yang meresahkan masyarakat merupakan bagian penting dari pelaksanaan tugas Polri.


Awal Chairuddin juga mengapresiasi para pejabat utama, Kapolres, dan seluruh personel Polda Sulsel yang telah menyambut kedatangannya untuk memimpin institusi kepolisian di daerah tersebut.


Ia berharap dukungan dan kerja sama seluruh jajaran terus terjaga, mengingat tantangan tugas kepolisian ke depan membutuhkan kerja keras, koordinasi, dan komitmen bersama.


“Sebagai putra daerah Sulawesi Selatan, saya mengharapkan dukungan serta bantuan dari kalian dalam menghadapi pelaksanaan tugas ke depan yang cukup banyak dan tidak ringan, yang memerlukan kerja keras dari kita semua agar situasi kamtibmas dapat terpelihara dengan baik,” tegasnya.


Menurut Awal Chairuddin, keberhasilan menjaga keamanan daerah tidak dapat diwujudkan oleh kepolisian semata, tetapi memerlukan dukungan dan sinergi dengan TNI, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat.


Pataka Pallawa Lipu, Simbol Kesinambungan Pengabdian


Upacara serah terima Pataka Pallawa Lipu menjadi salah satu momentum penting dalam rangkaian pergantian kepemimpinan Polda Sulawesi Selatan.


Lebih dari sekadar prosesi seremonial, kegiatan tersebut mencerminkan kesinambungan tanggung jawab institusi Polri dalam menjaga stabilitas keamanan, melindungi masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan pelayanan yang profesional dan berkeadilan.


Pergantian kepemimpinan ini diharapkan semakin memperkuat soliditas internal Polda Sulsel sekaligus meningkatkan sinergi dengan TNI, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat.


Dengan dukungan bersama, jajaran Polda Sulawesi Selatan diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan keamanan serta menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif di seluruh wilayah Bumi Anging Mammiri.


Menutup sambutannya, Awal Chairuddin berharap seluruh personel senantiasa mendapatkan petunjuk dan kekuatan dari Allah SWT dalam menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.


Semangat kebersamaan, loyalitas, dan profesionalisme pun diharapkan menjadi landasan bagi kepemimpinan baru Polda Sulawesi Selatan dalam mewujudkan kepolisian yang humanis, bertanggung jawab, dan semakin dekat dengan masyarakat.




Polda Sulsel Sambut Kapolda Baru, Irjen Pol Awal Chairuddin, dan Lepas Djuhandhani Rahardjo Puro

 


Nuansa Terkini Makassar, – Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menggelar tradisi penyambutan Kapolda Sulsel yang baru, Irjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin, S.I.K., M.H., sekaligus melepas pejabat lama, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., di Mapolda Sulsel, Jumat (9/10/2026).


Kegiatan tersebut berlangsung khidmat dengan mengedepankan nilai-nilai budaya lokal sebagai bentuk penghormatan kepada pimpinan baru sekaligus apresiasi atas pengabdian pejabat lama.


Kedatangan Irjen Pol. Awal Chairuddin bersama istrinya, Ny. Dewi Awal Chairuddin, disambut Wakapolda Sulsel Brigjen Pol. Dr. Gidion Arif Setyawan, S.I.K., S.H., M.Hum., bersama Ny. Luciana Gidion, serta jajaran pejabat utama dan personel Polda Sulsel.


Prosesi penyambutan diawali dengan tradisi angngaru, yakni ikrar kesetiaan khas Bugis-Makassar. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan jajar kehormatan dan tarian tradisional Padduppa sebagai simbol penghormatan serta ucapan selamat datang kepada Kapolda Sulsel yang baru.


Suasana penuh keakraban terlihat saat Kapolda Sulsel bersama istri menyapa para personel yang berbaris menyambut kedatangan mereka. Momen ini menjadi simbol kebersamaan dan kesiapan seluruh jajaran dalam mendukung kepemimpinan baru.


Selanjutnya, dilaksanakan Laporan Kesatuan dan penyerahan Pataka Polda Sulsel. Penyerahan pataka tersebut menjadi simbol kehormatan, tanggung jawab, dan amanah dalam meneruskan tugas Polri untuk menjaga keamanan serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.


Pada rangkaian kegiatan yang sama, digelar pula Rapat Paripurna Bhayangkari dan serah terima jabatan Ibu Asuh Polwan dari Ny. Upi Djuhandhani kepada Ny. Dewi Awal Chairuddin. Pergantian tersebut menandai kelanjutan peran pendampingan dan dukungan bagi Polisi Wanita (Polwan) di lingkungan Polda Sulsel.


Sebagai penutup, dilaksanakan farewell parade atau parade pelepasan untuk Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro. Prosesi tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda Sulsel yang baru sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian selama menjalankan tugas kepemimpinan di Polda Sulsel.


Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol. Didik Supranoto, S.I.K., M.H., menyampaikan bahwa tradisi penyambutan dan pelepasan merupakan bagian dari penghormatan institusi dalam setiap pergantian pimpinan.


Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni pergantian jabatan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, menjaga soliditas, serta memperkuat komitmen seluruh personel dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.


Melalui pergantian kepemimpinan ini, Polda Sulsel diharapkan mampu menjaga kesinambungan program kerja, meningkatkan profesionalisme personel, serta memperkuat kualitas pelayanan publik.


Sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat juga diharapkan terus ditingkatkan demi menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang aman, tertib, dan kondusif di wilayah Sulawesi Selatan.





Enam Program Kapolri, Dorong Polri Hadir Nyata dan Responsif di Tengah Masyarakat

 


Nuansa Terkini Gowa,- Kepolisian Negara Republik Indonesia terus memperkuat komitmen dalam memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan terbaik kepada masyarakat melalui enam program unggulan Kapolri Jenderal Pol. Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si. Jum'at (9/20/2026).


Enam program unggulan tersebut menjadi landasan dalam mendorong pelaksanaan tugas kepolisian yang semakin profesional, humanis, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.


Program pertama, Hadir untuk Melindungi, menegaskan komitmen Polri untuk selalu hadir di tengah masyarakat dalam menjaga keamanan serta memberikan perlindungan dari berbagai bentuk ancaman dan gangguan kamtibmas.


Kedua, Dekat untuk Mengayomi, menekankan pentingnya membangun kedekatan dan hubungan yang harmonis antara Polri dan masyarakat. Melalui pendekatan humanis, komunikasi yang terbuka, serta kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan warga, Polri diharapkan semakin dipercaya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.


Ketiga, Cepat untuk Melayani, merupakan dorongan bagi seluruh jajaran kepolisian untuk memberikan pelayanan yang cepat, tepat, mudah, dan responsif. Setiap kebutuhan masyarakat harus ditangani secara profesional dengan mengedepankan kepastian dan kualitas pelayanan.


Keempat, Adil dalam Menegakkan Hukum, menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilaksanakan secara objektif, profesional, proporsional, dan tanpa diskriminasi. Setiap proses hukum wajib berlandaskan peraturan perundang-undangan serta menjunjung tinggi keadilan dan hak asasi manusia.


Kelima, Terbuka untuk Diawasi, mencerminkan komitmen Polri dalam membangun tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel. Pengawasan serta kritik yang konstruktif menjadi bagian penting dalam evaluasi dan perbaikan berkelanjutan guna meningkatkan kepercayaan publik.


Keenam, Adaptif Menghadapi Perubahan, mendorong Polri agar terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, dinamika sosial, serta tantangan keamanan yang semakin kompleks. Kemampuan beradaptasi diperlukan untuk menghadirkan pelayanan kepolisian yang modern dan relevan dengan kebutuhan zaman.


Keenam program tersebut menegaskan pentingnya kehadiran Polri yang tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga mengedepankan perlindungan, pendekatan humanis, pelayanan berkualitas, transparansi, dan inovasi.


Melalui implementasi program unggulan ini, seluruh jajaran kepolisian diharapkan mampu menerjemahkan arah kebijakan pimpinan ke dalam tindakan nyata yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.


Polri hadir untuk melindungi, dekat untuk mengayomi, cepat untuk melayani, adil dalam menegakkan hukum, terbuka untuk diawasi, dan adaptif menghadapi perubahan. Komitmen tersebut menjadi bagian penting dalam mewujudkan institusi kepolisian yang semakin profesional, modern, dan dipercaya masyarakat.


Humas Polresta Gowa

Dari Cora’ La’ba hingga Sarung Basah, Dekranasda Makassar Bawa Ragam Kriya ke INACRAFT 2026



Nuansa Terkini Jakarta,— Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar membawa beragam produk wastra dan kriya lokal pada INACRAFT October Vol. 5 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 7–11 Oktober 2026.


Produk yang dibawa cukup beragam. Selain Baju Bodo dan sarung, Dekranasda Makassar juga menghadirkan kain Lagosi, Cora’ La’ba, Walidah, Sarung Basah, serta berbagai aksesori seperti kalung, bros, bando, tas, dan produk kriya lainnya dari perajin Makassar.


Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya Dekranasda Kota Makassar bersama Dinas Perdagangan Kota Makassar dalam memperkenalkan produk perajin lokal kepada pasar yang lebih luas.


Melalui INACRAFT, ragam wastra dan kriya yang dibawa dari Makassar dapat bertemu langsung dengan pengunjung, sekaligus memberi gambaran mengenai respons pasar terhadap produk yang ditawarkan.


Wakil Ketua Harian II Dekranasda Kota Makassar, Rosnani, mengatakan pameran seperti INACRAFT memberi kesempatan untuk melihat langsung produk mana yang paling menarik perhatian pengunjung.


“Di pameran seperti ini kami bisa melihat langsung produk mana yang paling banyak ditanya atau diminati pengunjung. Itu penting, karena dari respons mereka ada masukan yang bisa kami bawa pulang untuk pengembangan produk bersama para perajin,” ujar Rosnani.


Menurutnya, pertemuan langsung dengan konsumen memberi gambaran yang lebih nyata mengenai selera pasar. Tidak hanya terkait motif dan warna, tetapi juga model, fungsi, kualitas bahan hingga cara sebuah produk digunakan.


Masukan tersebut penting bagi produk-produk tradisional Makassar yang terus dikembangkan agar dapat digunakan dalam lebih banyak kesempatan tanpa kehilangan karakter dan identitas asalnya.


“Ciri khasnya tentu harus tetap dijaga. Tapi kita juga perlu melihat bagaimana produk-produk ini bisa lebih mudah dipakai dan diterima oleh masyarakat sekarang. Jadi tradisinya tetap ada, sementara model dan penggunaannya bisa terus berkembang,” katanya.


INACRAFT October Vol. 5 2026 tahun ini mengangkat tema “Techno Craft”. Teknologi ditempatkan bukan sebagai pengganti keterampilan tangan dan kearifan lokal, tetapi sebagai sarana untuk memperkuat nilai, kualitas, fungsi, serta daya tarik produk kerajinan Indonesia.


Bagi Dekranasda Makassar, pendekatan tersebut juga relevan dalam pengembangan produk perajin. Pemanfaatan teknologi dapat masuk dalam pengembangan desain, dokumentasi dan promosi produk hingga pemasaran, sementara karakter dan proses kriya tetap berpijak pada identitas daerah.


Pada hari pertama penyelenggaraan, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming bersama Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming turut meninjau sejumlah stan di area INACRAFT.


Dalam peninjauan tersebut, Wapres berdialog langsung dengan para pelaku usaha mengenai produk yang mereka hasilkan, termasuk proses pembuatan dan pengembangannya. Wapres dan Selvi juga membeli sejumlah produk dari tenan yang dikunjungi.


Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap pengembangan produk kreatif dan wirausahawan muda, terutama agar produk yang mereka hasilkan semakin dikenal dan memiliki peluang pasar yang lebih luas.


INACRAFT October Vol. 5 2026 menghadirkan 829 stan yang tersebar di lima hall JICC. Pesertanya berasal dari pelaku usaha dan anggota ASEPHI, pemerintah daerah, kementerian dan BUMN, peserta luar negeri, serta berbagai pelaku industri kriya lainnya.


Rosnani berharap keikutsertaan di INACRAFT tidak berhenti pada promosi selama lima hari pameran. Respons pengunjung, pertemuan dengan pelaku usaha, serta perkembangan produk dari berbagai daerah juga menjadi bahan yang dapat dibawa kembali untuk pengembangan perajin di Makassar.


“Yang kita harapkan setelah pameran tentu ada tindak lanjut. Bisa dari pengembangan produknya, perluasan pasar, maupun relasi baru yang nantinya bisa membantu perajin kita,” tutup Rosnani.(*)

Dekranasda Makassar Pelajari Pemberdayaan Perajin di Kampung Batik Cibuluh

 


Nuansa Terkini Bogor,— Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar mengunjungi Kampung Batik Cibuluh, Kota Bogor, Kamis (8/10/2026), untuk mempelajari pengembangan sentra batik yang tumbuh melalui keterlibatan masyarakat.


Rombongan tidak hanya melihat hasil produksi, tetapi juga menggali bagaimana warga mulai terlibat dalam kegiatan membatik, pola pembinaan yang dijalankan, pengembangan usaha, hingga pemasaran produk.


Dalam kunjungan tersebut, Dekranasda Makassar mendatangi enam pelaku batik, yakni Batik Gaziseri, Batik Melinda, Irwanda Batik, Batik Bogor Bumiku, Batik Pancawati, dan Batik Melangit.


Setiap pelaku mengembangkan motif dan produk dengan karakter masing-masing. Dari kunjungan ke sejumlah rumah produksi tersebut, rombongan dapat melihat langsung bagaimana kegiatan membatik berkembang menjadi usaha yang dijalankan warga di lingkungan tempat tinggal mereka.


Wakil Ketua Dekranasda Kota Makassar, Prof. Andi Tenri, mengatakan hal yang ingin dipelajari dari Kampung Batik Cibuluh justru tidak berhenti pada produk yang dihasilkan.


“Yang menarik bagi kami adalah proses di belakang produknya. Bagaimana warga dilatih, didampingi, kemudian bisa berkembang menjadi pelaku usaha dengan karakter masing-masing. Itu yang ingin kami lihat lebih dekat dan menjadi bahan belajar untuk pembinaan perajin di Makassar,” ujarnya.


Menurut Andi Tenri, pengalaman Kampung Batik Cibuluh dapat menjadi referensi untuk melihat pola pembinaan yang bisa disesuaikan dengan kondisi perajin di Makassar.


“Tentu tidak semuanya harus diterapkan dengan cara yang sama. Tetapi kita bisa melihat bagian mana yang relevan, terutama bagaimana pendampingan tetap berjalan setelah pelatihan sehingga perajin tidak berhenti pada kemampuan membuat produk, tetapi juga mampu mengembangkan usahanya,” katanya.


Sementara itu, Ketua Paguyuban Kampung Batik Cibuluh menyebut ketertarikan terhadap kampung batik tersebut tidak hanya datang dari masyarakat Bogor.


“Banyak yang datang dari luar Kota Bogor untuk belajar di Kampung Batik Cibuluh. Ada yang ingin belajar membatik, ada juga yang ingin melihat bagaimana masyarakat di sini dilibatkan dan bagaimana kelompok-kelompok perajin bisa berkembang,” jelasnya.


Kampung Batik Cibuluh juga menjadi ruang bagi warga, khususnya perempuan, untuk mengembangkan keterampilan menjadi kegiatan produktif. Dari proses belajar membatik, warga kemudian membentuk kelompok dan mengembangkan produk maupun usaha masing-masing.


Dalam dialog bersama pengelola dan perajin, rombongan turut menggali keterlibatan pemerintah daerah dan Dekranasda dalam mendukung keberlangsungan kampung batik, termasuk melalui pembinaan, promosi, pameran, serta pengembangan produk dan pasar.


Hal lain yang menarik perhatian rombongan adalah pengelolaan sisa bahan dari proses membatik. Sisa tinta atau pewarna yang telah mengendap dan mengeras tidak seluruhnya dibuang, melainkan dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali.


Praktik tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap proses produksi tidak hanya berhenti pada menghasilkan produk jadi. Perajin juga mulai memikirkan bagaimana sisa bahan yang dihasilkan dapat digunakan kembali sehingga penggunaan material menjadi lebih efisien.


Menurut Andi Tenri, praktik sederhana seperti itu juga menjadi bagian yang layak dicermati dalam pengembangan kerajinan.


“Bukan hanya bagaimana menghasilkan produk yang baik, tetapi proses produksinya juga perlu kita lihat. Kalau ada bahan yang masih bisa dimanfaatkan kembali, tentu itu menjadi nilai tambah dan pembelajaran yang baik bagi perajin,” ujarnya.


Selain sebagai kawasan produksi, Kampung Batik Cibuluh berkembang menjadi tempat edukasi bagi pengunjung yang ingin mengenal proses membatik secara langsung. Kehadiran pengunjung juga membuka ruang bagi perajin untuk memperkenalkan produk sekaligus cerita di balik proses pembuatannya.


Dari kunjungan tersebut, Dekranasda Kota Makassar membawa sejumlah catatan mengenai pola pembinaan perajin, keterlibatan masyarakat, pengembangan usaha, pemasaran, hingga pemanfaatan kembali sisa produksi yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan sektor kerajinan di Makassar.(*)

Jumat Bersih di Panambungan, Ketua Tim Penggerak PKK Makassar Dorong Penataan Lingkungan dan Pemanfaatan Lahan

 


Nuansa Terkini Makassar, — Penataan lingkungan di kawasan TPS3R Panambungan dan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Panambungan menjadi perhatian Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, saat memimpin kegiatan Jumat Bersih, Jumat (9/10/2026).


Kegiatan ini turut melibatkan jajaran TP PKK, Dekranasda, dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Makassar sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap kebersihan dan penataan lingkungan.


Jumat Bersih kali ini tidak hanya difokuskan pada pembersihan area, tetapi juga mendorong penataan kawasan agar lebih teratur dan nyaman bagi warga. 


Melinda mengimbau masyarakat yang tinggal di Rusunawa Panambungan untuk menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten, termasuk dengan tidak membiarkan sampah menumpuk di area permukiman maupun fasilitas umum.


Ia juga menyoroti keberadaan kontainer-kontainer Nganre Rong yang ada di kawasan tersebut. Melinda meminta agar kontainer-kontainer itu ditata kembali sehingga dapat dimanfaatkan sesuai fungsinya dan mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik.


Selain itu, Melinda mengarahkan camat dan lurah Panambungan untuk memanfaatkan lahan yang telah dibersihkan sebagai area urban farming. 


Langkah ini diharapkan dapat menambah ruang hijau di sekitar permukiman sekaligus mendorong pemanfaatan lahan secara produktif. Kawasan yang sebelumnya perlu dibenahi diharapkan dapat berkembang menjadi lingkungan yang lebih asri dan memiliki nilai guna bagi masyarakat.


Untuk memastikan kebersihan tetap terjaga setelah kegiatan berlangsung, ia juga meminta pemerintah setempat menyusun aturan yang dapat diterapkan secara konsisten di kawasan tersebut. 


Pengaturan ini penting agar warga memiliki pedoman yang jelas dalam menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, serta turut bertanggung jawab terhadap fasilitas yang digunakan bersama.


Melalui kegiatan ini, penataan TPS3R dan Rusunawa Panambungan diharapkan dapat berlanjut melalui langkah-langkah nyata, mulai dari pemeliharaan kebersihan, penataan fasilitas, hingga penghijauan kawasan. 


Dengan keterlibatan pemerintah setempat dan partisipasi warga, lingkungan yang bersih dan tertata diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Panambungan.(*)

Dari Cora’ La’ba hingga Sarung Basah, Dekranasda Makassar Bawa Ragam Kriya ke INACRAFT 2026



Nuansa Terkini Jakarta,— Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar membawa beragam produk wastra dan kriya lokal pada INACRAFT October Vol. 5 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, 7–11 Oktober 2026.


Produk yang dibawa cukup beragam. Selain Baju Bodo dan sarung, Dekranasda Makassar juga menghadirkan kain Lagosi, Cora’ La’ba, Walidah, Sarung Basah, serta berbagai aksesori seperti kalung, bros, bando, tas, dan produk kriya lainnya dari perajin Makassar.


Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya Dekranasda Kota Makassar bersama Dinas Perdagangan Kota Makassar dalam memperkenalkan produk perajin lokal kepada pasar yang lebih luas.


Melalui INACRAFT, ragam wastra dan kriya yang dibawa dari Makassar dapat bertemu langsung dengan pengunjung, sekaligus memberi gambaran mengenai respons pasar terhadap produk yang ditawarkan.


Wakil Ketua Harian II Dekranasda Kota Makassar, Rosnani, mengatakan pameran seperti INACRAFT memberi kesempatan untuk melihat langsung produk mana yang paling menarik perhatian pengunjung.


“Di pameran seperti ini kami bisa melihat langsung produk mana yang paling banyak ditanya atau diminati pengunjung. Itu penting, karena dari respons mereka ada masukan yang bisa kami bawa pulang untuk pengembangan produk bersama para perajin,” ujar Rosnani.


Menurutnya, pertemuan langsung dengan konsumen memberi gambaran yang lebih nyata mengenai selera pasar. Tidak hanya terkait motif dan warna, tetapi juga model, fungsi, kualitas bahan hingga cara sebuah produk digunakan.


Masukan tersebut penting bagi produk-produk tradisional Makassar yang terus dikembangkan agar dapat digunakan dalam lebih banyak kesempatan tanpa kehilangan karakter dan identitas asalnya.


“Ciri khasnya tentu harus tetap dijaga. Tapi kita juga perlu melihat bagaimana produk-produk ini bisa lebih mudah dipakai dan diterima oleh masyarakat sekarang. Jadi tradisinya tetap ada, sementara model dan penggunaannya bisa terus berkembang,” katanya.


INACRAFT October Vol. 5 2026 tahun ini mengangkat tema “Techno Craft”. Teknologi ditempatkan bukan sebagai pengganti keterampilan tangan dan kearifan lokal, tetapi sebagai sarana untuk memperkuat nilai, kualitas, fungsi, serta daya tarik produk kerajinan Indonesia.


Bagi Dekranasda Makassar, pendekatan tersebut juga relevan dalam pengembangan produk perajin. Pemanfaatan teknologi dapat masuk dalam pengembangan desain, dokumentasi dan promosi produk hingga pemasaran, sementara karakter dan proses kriya tetap berpijak pada identitas daerah.


Pada hari pertama penyelenggaraan, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming bersama Ketua Umum Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming turut meninjau sejumlah stan di area INACRAFT.


Dalam peninjauan tersebut, Wapres berdialog langsung dengan para pelaku usaha mengenai produk yang mereka hasilkan, termasuk proses pembuatan dan pengembangannya. Wapres dan Selvi juga membeli sejumlah produk dari tenan yang dikunjungi.


Kunjungan tersebut menjadi bentuk perhatian terhadap pengembangan produk kreatif dan wirausahawan muda, terutama agar produk yang mereka hasilkan semakin dikenal dan memiliki peluang pasar yang lebih luas.


INACRAFT October Vol. 5 2026 menghadirkan 829 stan yang tersebar di lima hall JICC. Pesertanya berasal dari pelaku usaha dan anggota ASEPHI, pemerintah daerah, kementerian dan BUMN, peserta luar negeri, serta berbagai pelaku industri kriya lainnya.


Rosnani berharap keikutsertaan di INACRAFT tidak berhenti pada promosi selama lima hari pameran. Respons pengunjung, pertemuan dengan pelaku usaha, serta perkembangan produk dari berbagai daerah juga menjadi bahan yang dapat dibawa kembali untuk pengembangan perajin di Makassar.


“Yang kita harapkan setelah pameran tentu ada tindak lanjut. Bisa dari pengembangan produknya, perluasan pasar, maupun relasi baru yang nantinya bisa membantu perajin kita,” tutup Rosnani.(*)




Dekranasda Makassar Pelajari Pemberdayaan Perajin di Kampung Batik Cibuluh

 


Nuansa Terkini Bogor,— Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar mengunjungi Kampung Batik Cibuluh, Kota Bogor, Kamis (8/10/2026), untuk mempelajari pengembangan sentra batik yang tumbuh melalui keterlibatan masyarakat.


Rombongan tidak hanya melihat hasil produksi, tetapi juga menggali bagaimana warga mulai terlibat dalam kegiatan membatik, pola pembinaan yang dijalankan, pengembangan usaha, hingga pemasaran produk.


Dalam kunjungan tersebut, Dekranasda Makassar mendatangi enam pelaku batik, yakni Batik Gaziseri, Batik Melinda, Irwanda Batik, Batik Bogor Bumiku, Batik Pancawati, dan Batik Melangit.


Setiap pelaku mengembangkan motif dan produk dengan karakter masing-masing. Dari kunjungan ke sejumlah rumah produksi tersebut, rombongan dapat melihat langsung bagaimana kegiatan membatik berkembang menjadi usaha yang dijalankan warga di lingkungan tempat tinggal mereka.


Wakil Ketua Dekranasda Kota Makassar, Prof. Andi Tenri, mengatakan hal yang ingin dipelajari dari Kampung Batik Cibuluh justru tidak berhenti pada produk yang dihasilkan.


“Yang menarik bagi kami adalah proses di belakang produknya. Bagaimana warga dilatih, didampingi, kemudian bisa berkembang menjadi pelaku usaha dengan karakter masing-masing. Itu yang ingin kami lihat lebih dekat dan menjadi bahan belajar untuk pembinaan perajin di Makassar,” ujarnya.


Menurut Andi Tenri, pengalaman Kampung Batik Cibuluh dapat menjadi referensi untuk melihat pola pembinaan yang bisa disesuaikan dengan kondisi perajin di Makassar.


“Tentu tidak semuanya harus diterapkan dengan cara yang sama. Tetapi kita bisa melihat bagian mana yang relevan, terutama bagaimana pendampingan tetap berjalan setelah pelatihan sehingga perajin tidak berhenti pada kemampuan membuat produk, tetapi juga mampu mengembangkan usahanya,” katanya.


Sementara itu, Ketua Paguyuban Kampung Batik Cibuluh menyebut ketertarikan terhadap kampung batik tersebut tidak hanya datang dari masyarakat Bogor.


“Banyak yang datang dari luar Kota Bogor untuk belajar di Kampung Batik Cibuluh. Ada yang ingin belajar membatik, ada juga yang ingin melihat bagaimana masyarakat di sini dilibatkan dan bagaimana kelompok-kelompok perajin bisa berkembang,” jelasnya.


Kampung Batik Cibuluh juga menjadi ruang bagi warga, khususnya perempuan, untuk mengembangkan keterampilan menjadi kegiatan produktif. Dari proses belajar membatik, warga kemudian membentuk kelompok dan mengembangkan produk maupun usaha masing-masing.


Dalam dialog bersama pengelola dan perajin, rombongan turut menggali keterlibatan pemerintah daerah dan Dekranasda dalam mendukung keberlangsungan kampung batik, termasuk melalui pembinaan, promosi, pameran, serta pengembangan produk dan pasar.


Hal lain yang menarik perhatian rombongan adalah pengelolaan sisa bahan dari proses membatik. Sisa tinta atau pewarna yang telah mengendap dan mengeras tidak seluruhnya dibuang, melainkan dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali.


Praktik tersebut menunjukkan bahwa perhatian terhadap proses produksi tidak hanya berhenti pada menghasilkan produk jadi. Perajin juga mulai memikirkan bagaimana sisa bahan yang dihasilkan dapat digunakan kembali sehingga penggunaan material menjadi lebih efisien.


Menurut Andi Tenri, praktik sederhana seperti itu juga menjadi bagian yang layak dicermati dalam pengembangan kerajinan.


“Bukan hanya bagaimana menghasilkan produk yang baik, tetapi proses produksinya juga perlu kita lihat. Kalau ada bahan yang masih bisa dimanfaatkan kembali, tentu itu menjadi nilai tambah dan pembelajaran yang baik bagi perajin,” ujarnya.


Selain sebagai kawasan produksi, Kampung Batik Cibuluh berkembang menjadi tempat edukasi bagi pengunjung yang ingin mengenal proses membatik secara langsung. Kehadiran pengunjung juga membuka ruang bagi perajin untuk memperkenalkan produk sekaligus cerita di balik proses pembuatannya.


Dari kunjungan tersebut, Dekranasda Kota Makassar membawa sejumlah catatan mengenai pola pembinaan perajin, keterlibatan masyarakat, pengembangan usaha, pemasaran, hingga pemanfaatan kembali sisa produksi yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan sektor kerajinan di Makassar.(*)

Kamis, 08 Oktober 2026

TP PKK Makassar Dorong Desain Lokal Berbasis Budaya dan Inovasi Beretika



Nuansa Terkini Makassar,— TP PKK Kota Makassar mendorong pengembangan desain lokal berbasis budaya melalui pelatihan peningkatan kapasitas desain dan inovasi beretika bertema “Terciptanya Desain Lokal Kecamatan”, yang digelar pada 8–9 Oktober 2026 di Auditorium TP PKK Kota Makassar.


Kegiatan ini diikuti kader TP PKK dan masyarakat perwakilan kecamatan yang dipersiapkan untuk mengembangkan kreativitas serta keterampilan desain berbasis potensi budaya lokal.


Pelatihan dibuka oleh Ketua Bidang III TP PKK Makassar, Prof. Hadijah Mahyuddin. Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan desainer lokal yang mampu mengangkat identitas budaya setiap kecamatan melalui karya kreatif dan inovatif.


“Melalui kegiatan ini, kami berharap kader TP PKK dan masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang desain, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas dengan mengangkat nilai-nilai budaya lokal. Kita ingin setiap kecamatan memiliki desain yang khas dan mencerminkan identitas daerahnya masing-masing,” ujarnya.


Menurut Prof Hadijah, desain lokal memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya. Karena itu, kreativitas perlu diimbangi dengan pemahaman terhadap nilai dan etika dalam mengangkat identitas budaya daerah.


“Yang terpenting, inovasi yang dihasilkan tetap memperhatikan etika dan menghargai budaya kita. Dengan begitu, desain lokal tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus meningkatkan potensi ekonomi masyarakat,” tambahnya.


Pelatihan ini menghadirkan empat narasumber, yakni Fantri Pribadi, Nasir, Hilal Cahril, dan Muhammad Habil Anugrah Simanjuntak. Mereka berasal dari kalangan desainer, seniman batik, penggiat pembatikan, serta akademisi dan pengajar seni rupa.


Para narasumber memberikan materi sekaligus pendampingan praktik agar peserta memahami proses kreatif dalam menghasilkan desain yang memiliki karakter dan ciri khas lokal.


Peserta mempelajari tahapan pembuatan desain, mulai dari menggali inspirasi, menyusun konsep, membentuk pola, hingga mengembangkan motif yang dapat diterapkan pada media kain.


Selain materi desain, peserta juga mengikuti praktik membatik secara langsung. Pendampingan ini memberikan pengalaman dalam mengolah motif menjadi karya sekaligus mengenalkan keterampilan dasar pembatikan.


Melalui praktik tersebut, peserta diharapkan mampu memadukan unsur budaya tradisional dengan kreativitas baru tanpa mengabaikan makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.


Kegiatan ini juga menjadi upaya TP PKK Kota Makassar dalam memperkuat peran kader sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat. Keterampilan desain diharapkan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha kreatif berbasis potensi daerah.


Perwakilan peserta dari berbagai kecamatan diharapkan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di wilayah masing-masing, sehingga pengembangan desain lokal dapat berlangsung secara berkelanjutan.


Melalui pelatihan selama dua hari ini, TP PKK Kota Makassar berharap tercipta desain khas kecamatan yang mampu memperkuat identitas budaya, mendorong kreativitas masyarakat, serta membuka peluang ekonomi melalui produk lokal yang inovatif dan berdaya saing.

Praktik Baik PAUD Makassar Jadi Inspirasi Pokja Bunda PAUD Kota Tarakan

 



Nuansa Terkini Makassar,—
Praktik baik pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kota Makassar menarik perhatian Pokja Bunda PAUD Kota Tarakan. Konsep “Sudut Keluarga” di TK Negeri Rappocini hingga metode “sentra alam” di TK Islam Athirah dinilai dapat diadaptasi untuk pengembangan PAUD di Tarakan.


Hal itu disampaikan dalam kunjungan studi tiru Pokja Bunda PAUD Kota Tarakan yang dipimpin Bunda PAUD Kota Tarakan, Sitti Rujiah, dan diterima Bunda PAUD Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, di Gedung TP PKK Kota Makassar, Kamis (8/10/2026).


Sebelumnya, rombongan telah melakukan observasi di TK Negeri Rappocini dan TK Islam Athirah untuk melihat langsung praktik pengelolaan PAUD, pembelajaran yang berpusat pada anak, keterlibatan orang tua, pembiasaan hidup sehat, pemenuhan gizi dan kesehatan, serta penciptaan lingkungan belajar yang aman dan ramah anak.


Bunda PAUD Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri mengatakan, kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi, tetapi menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan bertukar praktik baik dalam penyelenggaraan PAUD.


“PAUD merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter, nilai agama, kemandirian, disiplin, kreativitas, kemampuan bersosialisasi, hingga kecintaan terhadap lingkungan. Karena itu, pengembangannya membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak,” ujar Melinda.


Ia menekankan pentingnya menempatkan anak sebagai pusat proses pendidikan dengan memberikan ruang untuk bermain, mengeksplorasi, bertanya, berkreasi, dan belajar sesuai dunianya.


“Yang terpenting adalah bagaimana anak merasa aman, nyaman dan senang belajar. Anak harus diberikan ruang untuk tumbuh sesuai potensinya,” katanya.


Sementara itu, Sitti Rujiah mengaku mendapatkan sejumlah inspirasi dari kunjungan tersebut. Salah satunya konsep “Sudut Keluarga” di TK Negeri Rappocini yang dinilai dapat dikembangkan di Tarakan melalui kegiatan “Ngobras” atau Ngobrol Bareng Bersama Anak Hebat.


“Kami melihat banyak hal yang bisa menjadi inspirasi. Salah satunya Sudut Keluarga yang nantinya bisa kami adaptasi melalui kegiatan Ngobras di Tarakan,” ujar Sitti.


Di TK Islam Athirah, rombongan juga tertarik dengan metode “sentra alam”, salah satunya aktivitas anak mengisi air ke dalam jeriken. Menurut Sitti, kegiatan sederhana tersebut justru memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.


“Kegiatan seperti mengisi air ke dalam jeriken terlihat sederhana, tetapi ternyata memberikan pengalaman belajar yang luar biasa bagi anak. Ini salah satu praktik yang ingin kami bawa pulang dan kembangkan di Tarakan,” ungkapnya.


Sitti juga menyampaikan apresiasi kepada Bunda PAUD Kota Makassar atas sambutan dan kesempatan melihat langsung praktik penyelenggaraan PAUD di Makassar.


Melinda berharap kunjungan tersebut menjadi awal kolaborasi berkelanjutan antara Pokja Bunda PAUD Kota Makassar dan Pokja Bunda PAUD Kota Tarakan, khususnya dalam pertukaran pengalaman dan pengembangan praktik baik pendidikan anak usia dini.




Rabu, 07 Oktober 2026

Pokja Bunda PAUD Mataram Pelajari Praktik PAUD HI di Makassar



Nuansa Terkini Makassar, — Pokja Bunda PAUD Kota Makassar menerima kunjungan studi tiru dari Pokja Bunda PAUD Kota Mataram dalam rangka berbagi praktik baik pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI).


Rombongan dipimpin langsung Bunda PAUD Kota Mataram, Sitti Rujiah. Kunjungan diawali di TK Negeri Kecamatan Rappocini Makassar dan disambut Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, bersama jajaran, Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Makassar, Titin Florentina P, beserta pengurus serta Kepala Sekolah TK Negeri Rappocini, Zusanna Syarid dan para guru.


Dalam kunjungan tersebut, rombongan melihat secara langsung proses pembelajaran di TK Negeri Kecamatan Rappocini. Peserta menyaksikan berbagai aktivitas belajar dan bermain anak, termasuk kegiatan membaca buku yang difasilitasi melalui layanan Dinas Perpustakaan Kota Makassar.


Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, mengapresiasi kunjungan tersebut. Menurutnya, studi tiru menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman dalam pengembangan PAUD.


“Terima kasih atas kunjungannya. Studi tiru ini menjadi kesempatan bagi kedua daerah untuk saling berbagi pengalaman dalam pengembangan pendidikan anak usia dini,” ujarnya.


Achi menjelaskan, TK Negeri Kecamatan Rappocini merupakan salah satu dari lima PAUD negeri yang dimiliki Pemerintah Kota Makassar. Saat ini, pemerintah juga tengah mempersiapkan pembangunan TK negeri berikutnya untuk memperluas akses layanan PAUD berkualitas.


Menurutnya, pengembangan PAUD negeri di Makassar tidak hanya berorientasi pada proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga penguatan pendidikan karakter dan keterlibatan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak.


“PAUD untuk negeri di Kota Makassar sejatinya lebih kepada bagaimana pendidikan karakter. Kita memiliki beberapa sentra dan ke depan, PAUD yang sedang dibangun diharapkan lebih kompleks, bukan hanya sebagai sekolah, tetapi juga menjadi edukasi center bagi orang tua,” jelasnya.


Ia mencontohkan keberadaan ruang yang dikembangkan sebagai pusat edukasi keluarga di TK Negeri Kecamatan Rappocini. Salah satunya melalui konsep “Surga” atau Sudut Keluarga yang menjadi ruang interaksi dan edukasi bagi keluarga.


Sebagai kota yang mendapatkan predikat Kota Layak Anak, Achi menyebut penguatan layanan ramah anak menjadi salah satu perhatian Pemerintah Kota Makassar. Berbagai inovasi dilakukan untuk memenuhi indikator pada klaster pendidikan, kesehatan, serta perlindungan anak.


“Anak-anak sejak dini sudah dilatih mengenal sentuhan boleh dan sentuhan tidak boleh. Ini merupakan salah satu upaya pencegahan kekerasan, khususnya kekerasan seksual,” katanya.


Menurut Achi, meningkatnya tren kasus kekerasan terhadap anak menjadi tantangan yang harus direspons melalui langkah pencegahan sejak dini. Lingkungan sekolah dinilai memiliki peran penting dalam membangun pemahaman dan perlindungan anak.


Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Makassar, Titin Florentina P, mengatakan Makassar dipercaya sebagai salah satu daerah percontohan dalam pengembangan PAUD Holistik Integratif. Namun, pihaknya menyadari bahwa berbagai program yang telah dirintis masih terus membutuhkan penyempurnaan.


“Melalui pertemuan dan diskusi ini, kami berharap dapat belajar dan memperkaya diri dari pengalaman serta masukan berharga dari Bunda PAUD Kota Mataram dan jajarannya,” ujarnya.


Selama dua hari, kedua daerah akan berbagi informasi mengenai kebijakan, strategi PAUD HI, hingga pelaksanaan layanan PAUD Holistik Integratif. Titin berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan kerja sama berkelanjutan.


Sementara itu, Bunda PAUD Kota Mataram, Sitti Rujiah, menyampaikan bahwa kunjungan ke Makassar dilakukan karena kota ini dinilai memiliki pengalaman dalam penerapan PAUD HI. Pihaknya ingin mempelajari secara langsung sistem dan praktik yang dapat diterapkan di Kota Mataram.


“Kami datang ke Makassar karena melihat Makassar menjadi salah satu pilot project PAUD HI. Di Mataram, PAUD HI belum berjalan dan kami baru akan memulainya. Karena itu, kami ingin belajar bagaimana pelaksanaan PAUD HI sebenarnya,” ungkapnya.


Ia berharap kunjungan tersebut dapat memberikan referensi, termasuk prosedur dan strategi yang dapat diadaptasi untuk pengembangan PAUD HI di Kota Mataram. Menurutnya, penguatan PAUD HI juga menjadi salah satu kebutuhan dalam meningkatkan pemenuhan indikator Kota Layak Anak.


“Semoga setelah dari Makassar, kami bisa mengajak seluruh PAUD di Kota Mataram untuk menjadi PAUD HI. Saat ini Kota Mataram masih berada pada predikat Madya dan ada beberapa kategori yang perlu kami penuhi, salah satunya pengembangan TK HI,” katanya.


Pada kesempatan tersebut, Kepala TK Negeri Kecamatan Rappocini, Zusanna Syarid turut memaparkan berbagai program dan praktik pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Pemaparan mencakup pengelolaan sentra, penguatan pendidikan karakter, pembiasaan positif bagi anak, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung proses tumbuh kembang anak.


Pada hari pertama, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Sekolah Islam Athirah. Di lokasi tersebut, rombongan melihat langsung proses pembelajaran serta memperoleh pemaparan mengenai praktik pembelajaran, pengelolaan sentra, kurikulum, dan pengembangan sekolah yang diterapkan pada Kelompok Bermain dan TK Islam Athirah.


Selain itu, rombongan juga mendapatkan pemaparan langsung terkait praktik pembelajaran, inovasi, program unggulan, pengelolaan sentra, penerapan kurikulum, penguatan karakter, serta strategi pengembangan satuan pendidikan yang disampaikan oleh Kepala TK Islam Athirah dan Kepala SD Islam Athirah.


Kunjungan studi tiru diharapkan memperkuat kolaborasi antardaerah dalam menghadirkan layanan PAUD yang berkualitas, inklusif, holistik, integratif, dan ramah anak, sekaligus menjadi ruang berbagi inovasi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.