Selasa, 18 Agustus 2026

Sekda Makassar Dorong Digitalisasi Retribusi Sampah Lewat Lontara Plus

 


Nuansa Terkini Makassar,— Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar memperkuat pengawasan kebersihan wilayah sekaligus mendorong percepatan digitalisasi retribusi sampah melalui aplikasi Lontara Plus.


Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Makassar, Andi Zulkifly dalam rapat koordinasi digitalisasi retribusi sampah di ruang rapat Sekda Kantor Balai Kota Makassar, Selasa (18/8). Hadir Tim Ahli Pemkot Makassar Andi Gita Namira Patigana, Kadiskominfo Makassar Muh Roem dan camat.


Sekda Makassar Andi Zulkifly meminta seluruh camat dan lurah meningkatkan pengawasan kebersihan, khususnya di jalan-jalan utama yang menjadi wajah Kota Makassar.


Ia menilai persoalan kebersihan tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan tanggung jawab aparatur di tingkat kecamatan dan kelurahan.


“Yang pertama saya minta adalah kebersihan. Jaga wilayah masing-masing. Saya ingin masyarakat menilai bahwa pemerintahan Pak Wali Munafri, betul-betul membuat Makassar semakin bersih, bukan semakin kotor,” kata Andi Zulkifly.


Menurut Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Makassar itu, lurah harus aktif memantau kondisi wilayah sejak pagi hingga malam. Pengawasan tersebut terutama difokuskan pada ruas jalan utama yang menjadi jalur masyarakat dan tamu daerah.


“Saya minta camat melakukan pemantauan dan memerintahkan lurah untuk turun melakukan pengawasan. Pagi, sore, dan malam silakan diatur sesuai kondisi masing-masing wilayah. Saya juga akan bersama jajaran pemerintahan mengecek jalan-jalan, terutama jalan utama,” ujarnya.


Zulkifly juga menyoroti keberadaan sampah yang berasal dari aktivitas pembangunan. Meski bukan seluruhnya menjadi kewenangan pemerintah, ia meminta aparatur wilayah tetap mengambil langkah agar sampah tersebut tidak mengganggu kebersihan lingkungan.


“Kalau ada sampah bangunan di wilayah, tetap menjadi tanggung jawab kita untuk memastikan tidak mengganggu. Kalau berasal dari rumah masing-masing, tegur pemiliknya. Intinya adalah kepedulian terhadap wilayah,” tegasnya.


Ia juga mengingatkan para camat untuk aktif mengikuti rapat koordinasi pemerintah kota. Menurutnya, koordinasi menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai persoalan di tingkat kelurahan dapat ditangani dengan baik.


“Camat itu wajib rapat dan berkoordinasi. Kalau ada camat yang tidak pernah rapat, itu bahaya. Bagaimana mau membangun harmoni kalau koordinasi dengan pekerjaan di bawah yang begitu banyak dan karakter masyarakat yang beragam tidak berjalan?” katanya.


Selain kebersihan, Zulkifly meminta perangkat daerah mempercepat penerapan digitalisasi pembayaran retribusi sampah melalui aplikasi Lontara Plus. Ia mendorong setiap kecamatan dan kelurahan memberikan contoh langsung kepada masyarakat dengan melakukan transaksi digital.


“Sentuhan teknologi itu penting. Kita sudah punya fitur Lontara Plus. Tolong disosialisasikan dan dites. Setiap lurah harus mencoba bagaimana cara membayar melalui Lontara Plus,” ujarnya.


Menurut dia, sistem pembayaran digital dapat mengurangi potensi persoalan dalam pengelolaan pembayaran melalui kolektor. Karena itu, setiap kecamatan diminta memiliki target dan perwakilan warga yang melakukan transaksi digital.


“Lebih baik masyarakat membayar langsung melalui sistem digital daripada melalui kolektor yang kemudian menimbulkan persoalan. Kita harus hati-hati karena ada laporan masyarakat sudah menyerahkan uang, tetapi ternyata tidak masuk ke bank,” jelasnya.


Zulkifly juga meminta penyempurnaan basis data retribusi sampah. Pendataan, kata dia, perlu menggunakan unit bangunan atau rumah sebagai basis utama, kemudian dikategorikan berdasarkan fungsi dan kemampuan membayar.


“Database-nya harus disempurnakan. Unit pendataannya adalah rumah. Kita harus tahu berapa jumlah bangunan atau rumah di setiap kelurahan. Dari situ kita bisa melihat mana rumah tangga, mana usaha, mana yang besar dan mana yang kecil,” katanya.


Untuk meningkatkan penerimaan, ia meminta objek retribusi dari sektor usaha menjadi prioritas, khususnya restoran, kafe, hotel, dan usaha lain yang menghasilkan volume sampah cukup besar serta memiliki riwayat pembayaran yang baik.


Zulkifly menilai pendataan yang lebih akurat diperlukan agar pemerintah dapat menentukan secara tepat objek yang dikenai retribusi maupun kelompok masyarakat yang mendapatkan keringanan.


Ia juga menegaskan retribusi sampah berbeda dengan pajak. Retribusi merupakan pembayaran atas jasa pelayanan yang diberikan pemerintah kepada masyarakat. Karena itu, pelayanan pengangkutan sampah harus berjalan seiring dengan kewajiban pembayaran.


“Ini retribusi jasa umum. Ketika pemerintah memberikan pelayanan, masyarakat membayar. Kalau masyarakat membayar tetapi sampahnya tidak diangkut, pemerintah yang salah. Sebaliknya, kalau tidak membayar, jangan sampai tetap mendapatkan pelayanan tanpa ada pengawasan,” katanya.


Di sisi lain, mantan Camat Ujung Pandang ini meminta penegakan Peraturan Daerah (Perda) terkait larangan membuang sampah sembarangan diperkuat. Ia menyebut pemerintah kota telah meminta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memperkuat penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) untuk mendukung penegakan aturan.


“Penegakan perda harus berjalan. Kalau ada yang membuang sampah sembarangan, harus ditindak sesuai aturan. PPNS Satpol PP sudah dipersiapkan. Tinggal bagaimana laporan dan mekanisme penindakannya dijalankan,” tegasnya.


Ia menambahkan, pendekatan penegakan aturan harus dibarengi edukasi kepada masyarakat. Aparatur kecamatan dan kelurahan diminta aktif menyosialisasikan kewajiban pembayaran retribusi sampah, penggunaan Lontara Plus, serta larangan membuang sampah sembarangan.


Selain itu, kantor kecamatan dan kelurahan diminta menjadi salah satu titik sosialisasi dan pendampingan penggunaan aplikasi Lontara Plus. Masyarakat yang datang mendapatkan pelayanan administrasi diharapkan sekaligus diarahkan mengenal dan mengunduh aplikasi tersebut.


“Semakin banyak warga yang mengunduh Lontara Plus, semakin baik karena berarti pelayanan digital kita berjalan. Saya minta camat dan lurah membantu masyarakat mengunduh dan menggunakan aplikasi tersebut di kantor pelayanan masing-masing,” katanya.


Zulkifly berharap langkah tersebut dapat memperkuat tata kelola kebersihan sekaligus meningkatkan transparansi dan efektivitas penerimaan retribusi di Kota Makassar.


“Yang paling penting hari ini adalah kebersihan. Kemudian sosialisasikan Lontara Plus dan pembayaran PBB maupun retribusi melalui aplikasi. Nanti kita lihat datanya dan kita monitoring bersama,” pungkasnya. (*)

Senin, 17 Agustus 2026

Usai SMEP, Ketua Tim Penggerak PKK Evaluasi Pengelolaan Sampah Kecamatan Manggala



Nuansa Terkini Makassar,— Ketua Tim Penggerak PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, memimpin rapat bersama jajaran Kecamatan Manggala dan para lurah se-Kecamatan Manggala, Selasa (18/8/2026). 


Rapat yang digelar usai kegiatan Supervisi, Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan (SMEP) tersebut turut membahas evaluasi program pengelolaan sampah, khususnya di wilayah Tamangapa.


Dalam arahannya, Melinda yang juga Ketua Dewan Lingkungan itu menekankan pentingnya membangun sistem pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah tangga, RT hingga kelurahan.


Melinda mendorong setiap RT di Kecamatan Manggala memiliki 2 hingga 3 teba sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah organik dari sumbernya. 


Ia meminta jajaran kecamatan dan lurah memastikan fasilitas tersebut tidak sekadar tersedia, tetapi benar-benar dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.


“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah dan lingkungan masing-masing. Kita ingin setiap RT mampu mengelola sampahnya, sehingga yang keluar dari lingkungan benar-benar hanya residu,” ujar Melinda.


Ia juga menyoroti masih adanya praktik pembakaran sampah dan pembuangan sampah sembarangan. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan pengawasan yang lebih kuat serta keterlibatan aktif jajaran wilayah dan masyarakat.


Dalam evaluasi program, Kelurahan Tamangapa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian. Tamangapa memiliki 7 RW dan 43 RT, dengan 18 teba dan 4 Bank Sampah Unit (BSU).


Melinda mendorong Kluster Berlian yang berada di wilayah Tamangapa menjadi model percontohan pengelolaan sampah mandiri. Model tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi lingkungan lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.


Ia juga mendorong penguatan sosialisasi di setiap RT serta penambahan sarana seperti teba, komposter dan mesin pencacah apabila fasilitas yang tersedia telah mencapai kapasitas maksimal.


“Kalau ada lingkungan yang sudah berjalan baik, kita jadikan contoh dan direplikasi. Jangan berhenti pada satu titik, tetapi diperluas ke lingkungan lainnya,” katanya.


Selain Tamangapa, rapat turut mengevaluasi perkembangan pengelolaan sampah di tujuh kelurahan lainnya. Manggala memiliki 42 teba dan 17 BSU. Borong mengembangkan budidaya maggot melalui dukungan CSR PLN, sementara Antang memiliki 30 teba serta satu TPS3R yang menaungi 12 RT dengan kondisi nihil pengiriman sampah keluar.


Batua tercatat memiliki 27 teba, 10 BSU dan 13 urban farming. Bitoa memiliki 15 teba, tiga BSU dan dua urban farming. Biring Romang memiliki 44 teba dan lima urban farming, sedangkan Bangkala memiliki 43 teba serta mendapat dukungan CSR untuk pengadaan mesin pencacah yang akan dimanfaatkan dalam pengolahan organik.


Melinda juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap sumber sampah dari sektor hotel, restoran dan kafe (Horeka), serta dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).


Menurutnya, setiap sumber sampah harus memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Pengelolaan secara mandiri perlu diperkuat agar sampah dari sektor usaha maupun dapur MBG tidak seluruhnya dibebankan kepada sistem pengangkutan pemerintah.


“Semua pihak harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan. Masyarakat kita dorong untuk tertib, sektor usaha dan dapur MBG juga harus melakukan hal yang sama,” tegasnya.


Ia juga meminta pengawasan diperkuat di wilayah rawan pembuangan sampah, termasuk kawasan perbatasan Perumahan Moncongloe yang masih ditemukan menjadi titik pembuangan sampah sembarangan.


Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Makassar, Aswin Kartapati, turut mendorong setiap RW membentuk Bank Sampah Unit sesuai surat edaran yang berlaku.


Selain penguatan BSU, sosialisasi berkelanjutan dinilai penting untuk meningkatkan partisipasi warga, terutama mereka yang masih enggan melakukan pemilahan sampah.


Melinda menegaskan bahwa evaluasi usai SMEP tersebut bukan sekadar untuk melihat capaian angka dan jumlah fasilitas, tetapi memastikan seluruh program benar-benar berdampak terhadap pengurangan sampah.


“Yang kita kejar bukan hanya berapa banyak teba atau bank sampah yang dibangun, tetapi seberapa banyak sampah yang berhasil kita kelola dari sumbernya. Ini harus menjadi gerakan bersama dari RT, RW, kelurahan sampai kecamatan,” pungkas Melinda. (*)




SMEP 2026 di Panakkukang, Ketua Tim Penggerak PKK Makassar Perkuat Gerakan PKK Berbasis Keluarga



Nuansa Terkini Makassar,— Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, membuka kegiatan Supervisi, Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan (SMEP) TP PKK Tahun 2026 di Kecamatan Panakkukang, Selasa (18/8/2026).


Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menyelaraskan program, memperkuat koordinasi kader, sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program PKK dari tingkat kelurahan hingga kecamatan agar berjalan lebih terarah dan berkesinambungan.


Dalam sambutannya, Melinda menegaskan bahwa SMEP bukan sekadar agenda evaluasi administratif, tetapi menjadi ruang untuk melihat secara langsung perkembangan program sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperkuat di lapangan.


“SMEP ini bukan hanya tentang laporan, tetapi bagaimana kita memastikan program yang kita jalankan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh keluarga dan masyarakat,” ujar Melinda.


Ia menyampaikan, sejumlah program prioritas TP PKK Kota Makassar pada 2026 terus diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat, mulai dari penanganan stunting, pemberdayaan ekonomi keluarga berbasis UMKM, peningkatan kualitas pendidikan anak, hingga kepedulian terhadap lingkungan hidup.


Menurut Melinda, seluruh program tersebut memiliki satu benang merah, yakni memperkuat keluarga sebagai fondasi pembangunan masyarakat.


Dalam kesempatan tersebut, Melinda memberikan perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan, terutama pengelolaan sampah yang menjadi salah satu prioritas Kota Makassar.


Ia mengajak seluruh kader PKK menjadikan gerakan “Pilah Sampah dari Rumah” sebagai kebiasaan baru masyarakat. Perubahan tersebut dinilai harus dimulai dari keluarga, karena rumah tangga merupakan sumber awal dari sebagian besar sampah yang dihasilkan setiap hari.


“Kalau kita ingin Makassar Bebas Sampah 2029, perubahan itu harus dimulai dari rumah. Kader PKK punya posisi yang sangat strategis untuk mengedukasi keluarga, mulai dari memilah sampah hingga memastikan sampah dikelola dengan benar,” tegasnya.


Melinda menilai kader PKK memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat sehingga dapat menjadi penggerak perubahan perilaku. Edukasi mengenai pemilahan sampah, menurutnya, tidak cukup dilakukan sesekali, tetapi harus menjadi gerakan yang terus dibangun melalui lingkungan keluarga dan komunitas.


Ia juga mendorong kader untuk tidak hanya menyampaikan imbauan, tetapi memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, gerakan pengelolaan sampah dapat tumbuh sebagai budaya bersama, bukan sekadar program pemerintah.


Melinda menekankan pentingnya data yang akurat dalam pelaksanaan SMEP. Data dari kelurahan hingga kecamatan harus menjadi dasar untuk melihat capaian program, menemukan kendala, serta menentukan langkah tindak lanjut.


“Data yang kita laporkan harus menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Dari sana kita bisa melihat mana yang sudah berjalan baik, mana yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus kita lakukan bersama,” katanya.


Selain penyelarasan data, SMEP juga menjadi momentum memperkuat kapasitas kader. Melinda berharap kader PKK terus meningkatkan kemampuan, kreativitas dan kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.


Ia menilai keberhasilan program PKK tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan kader menerjemahkan program menjadi kegiatan yang konkret dan mudah diterapkan di tengah masyarakat.


Melalui SMEP 2026, Melinda berharap jajaran TP PKK di Kecamatan Panakkukang dapat semakin solid dalam menjalankan program dan membangun kolaborasi dengan pemerintah kecamatan, kelurahan serta berbagai unsur masyarakat.


Ia mengajak seluruh kader menjadikan evaluasi sebagai proses untuk terus memperbaiki kualitas kerja dan memastikan setiap program memiliki dampak yang nyata.


“PKK harus hadir dekat dengan masyarakat. Kita tidak hanya menjalankan program, tetapi harus memastikan program itu menjawab kebutuhan keluarga dan memberikan perubahan yang nyata,” pungkas Melinda.


Kegiatan SMEP 2026 di Kecamatan Panakkukang diharapkan menjadi salah satu langkah memperkuat gerakan PKK dari tingkat kelurahan hingga kecamatan, sekaligus mempercepat implementasi program prioritas Kota Makassar, termasuk membangun kesadaran masyarakat menuju Makassar Bebas Sampah 2029. (*)

Ketua TP PKK Makassar Resmi Buka SMEP 2026, Kecamatan Manggala Jadi Lokasi Perdana



Nuansa Terkini Makassar, - Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, resmi membuka kegiatan Supervisi, Monitoring, Evaluasi, dan Pelaporan (SMEP) pertama tahun 2026, dengan Kecamatan Manggala menjadi wilayah pertama yang menjadi lokasi pelaksanaan SMEP, berlokasi di Aula Kantor Camat Manggala, Selasa (18/8/2026).


Dalam sambutannya, Melinda menjelaskan bahwa SMEP merupakan bagian dari agenda rutin TP PKK untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program-program PKK. Melalui kegiatan tersebut, pengurus TP PKK Kota Makssar ingin memastikan berbagai program yang telah direncanakan benar-benar berjalan hingga tingkat kelurahan.


“Jadi, sebenarnya ini kita lakukan karena PKK ini kan mitra pemerintah. Kita perlu melakukan SMEP untuk melihat bagaimana program-program PKK ini telah berlangsung di tingkat kecamatan sampai kelurahan,” ujar Melinda.


Ia menilai, SMEP tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan evaluasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kerja sama dan koordinasi antara pengurus TP PKK Kota Makassar dengan pengurus serta kader di seluruh wilayah kecamatan


Pada kesempatan ini, Melinda juga mengajak seluruh kader untuk membantu pemerintah mengedukasi masyarakat program-program pemerintah, salah satunya pengelolaan sampah.


Untuk itu, Melinda mendorong pemerintah kecamatan dan jajaran lurah hingga kader PKK Kecamatan Manggala untuk terus menjadi contoh dalam penerapan program pemilahan sampah dari rumah. Ia menilai, edukasi kepada masyarakat akan lebih mudah dilakukan apabila para kader terlebih dahulu menerapkan kebiasaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


“Kalau sebelum kita minta orang lain untuk berubah, kita harus berubah duluan. Sebelum orang lain kita minta praktikkan, kita harus praktikkan sendiri di rumah,” ujarnya. Ia pun mengapresiasi para kader yang selama ini aktif memantau dan mengajak keluarga masing-masing untuk memilah sampah.


Menutup sambutannya, Melinda mengajak seluruh peserta menjadikan pelaksanaan SMEP sebagai bahan refleksi dan perbaikan untuk meningkatkan peran PKK dalam membina masyarakat. Ia menekankan pentingnya memperkuat komitmen, kolaborasi, dan koordinasi agar program PKK benar-benar mampu hadir sebagai solusi atas berbagai persoalan masyarakat.


Usai pembukaan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan SMEP. Para pengurus TP PKK Kota Makassar bersama pengurus TP PKK Kecamatan Manggala melakukan proses supervisi, monitoring, evaluasi, dan pelaporan terhadap pelaksanaan program PKK di wilayah Kecamatan Manggala.




Ketua TP PKK Makassar, Melinda Aksa Hadiri Upacara HUT ke-81 RI di Lapangan Karebosi



Nuansa Terkini Makassar,- Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri, menghadiri upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Karebosi, Makassar, Senin (17/8/2026).


Melinda Aksa hadir mendampingi Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam upacara yang diadakan Pemerintah Kota Makassar berlangsung khidmat tersebut.


Dalam kesempatan tersebut, Melinda tampil anggun mengenakan kebaya berwarna merah. Penampilannya semakin mencerminkan semangat nasionalisme dan suasana perayaan kemerdekaan yang penuh makna.


Upacara pengibaran bendera di Lapangan Karebosi diikuti jajaran Pemerintah Kota Makassar, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI-Polri, organisasi kemasyarakatan, serta berbagai elemen masyarakat.


Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi kesempatan untuk kembali mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus memperkuat semangat persatuan dan gotong royong dalam membangun daerah.


Ketua TP PKK Makassar, Melinda Aksa Munafri menyampaikan bahwa peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan bangsa sekaligus menatap masa depan Indonesia.


“Di usia baru Indonesia ini, harapan saya semoga Indonesia semakin maju, semakin kuat, masyarakatnya semakin sejahtera, dan kita semua bisa terus menjaga persatuan serta mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif,” ujar Melinda.


Menurutnya, semangat kemerdekaan dapat diwujudkan mulai dari keluarga. Karena itu, TP PKK Kota Makassar berkomitmen memperkuat peran keluarga dalam membangun generasi yang sehat, berkarakter, mandiri, dan memiliki semangat kebangsaan.


“Kami dari TP PKK Kota Makassar akan terus berkomitmen melalui berbagai program pemberdayaan keluarga agar generasi penerus kita tumbuh sehat, berkarakter, dan memiliki semangat kebangsaan,” ujarnya.


Sementara itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan peringatan kemerdekaan harus menjadi momentum untuk bersama-sama mengisi kemerdekaan dengan pembangunan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.


“Dan yang paling penting bagaimana kita bersama-sama mengisi kemerdekaan ini dengan baik. Artinya, melaksanakan proses-proses pembangunan,” kata Munafri.


Ia menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk terus hadir sebagai pelayan masyarakat. “Pemerintah terus harus berfungsi sebagai pelayan masyarakat, punya cita-cita untuk menyejahterakan masyarakat yang ada di Kota Makassar ini,” lanjutnya.


Usai mengikuti rangkaian upacara di Lapangan Karebosi, Melinda Aksa Munafri juga turut mendampingi Munafri Arifuddin dalam rangkaian agenda peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulawesi Selatan.




Kamis, 13 Agustus 2026

Kapolresta Gowa dan Staf Jajaran Sampaikan Ucapan HUT untuk Astamaops Polri

 


Nuansa Terkini Gowa,- Kapolresta Gowa Kombes Pol. Dr. Muh. Yusuf Usman, S.H., S.I.K., M.T., CIPA, bersama staf dan seluruh jajaran Polresta Gowa, menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Komjen Pol. Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si., selaku Astamaops Polri, Jum'at (14/8/2026).


Ucapan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan, doa, dan apresiasi atas dedikasi serta pengabdian Komjen Pol. Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si. dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai bagian dari institusi Polri.


“Selamat ulang tahun kepada Komjen Pol. Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si. Semoga senantiasa diberikan panjang umur, kesehatan, keselamatan, serta kekuatan dalam mengemban amanah dan pengabdian kepada bangsa dan negara,” ujar Kapolresta Gowa.


Kapolresta Gowa bersama staf dan jajaran juga mendoakan agar di usia yang baru, Komjen Pol. Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si. senantiasa diberikan kemudahan dalam setiap urusan, dilimpahkan rezeki yang barokah, serta kebahagiaan dunia dan akhirat.


“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan dalam setiap langkah pengabdian, memudahkan segala urusan, serta senantiasa melindungi dalam menjalankan tugas untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” tuturnya.


Ucapan tersebut menjadi wujud kebersamaan dan kekeluargaan jajaran Polresta Gowa dalam memberikan doa terbaik kepada pimpinan Polri yang tengah memperingati hari kelahiran.


Selamat Ulang Tahun Komjen Pol. Dr. Mohammad Fadil Imran, M.Si. Semoga senantiasa sehat, sukses, amanah, dan selalu dalam lindungan Allah SWT.


Humas Polresta Gowa

Durian Viral Hadirkan Promo Kemerdekaan, Penjualan Capai Dua Mobil Sehari

 


Nuansa Terkini Makassar, — Usaha buah “Durian Viral” terus menarik perhatian pembeli dari berbagai daerah. Berawal dari penjualan durian sebagai produk utama, usaha ini kini memperluas dagangannya dengan menyediakan berbagai jenis buah, mulai dari mangga, manggis, cempedak, nangka hingga semangka.


Pemilik usaha, Taji Arpa dan Sita Abang, mengatakan durian masih menjadi produk yang paling banyak diminati pelanggan. Salah satu jenis yang menjadi favorit saat ini adalah durian montong.


“Yang paling banyak laku memang durian montong. Harga normalnya Rp50.000 per kilogram, tetapi khusus edisi 17 Agustus kami memberikan promo menjadi Rp45.000 per kilogram,” ujarnya.


Tingginya minat masyarakat membuat pasokan durian yang masuk ke tempat tersebut cukup besar. Untuk durian lokal, dalam kondisi ramai, penjualan dapat mencapai satu mobil dalam sehari. Sementara untuk durian montong, penjualan bahkan bisa mencapai dua mobil dalam satu hari.


Menurutnya, durian menjadi salah satu buah yang relatif mudah dipasarkan karena dapat bertahan hingga tiga sampai empat hari. Meski demikian, rata-rata stok durian yang tersedia biasanya sudah habis dalam satu hari.


Popularitas usaha tersebut juga tidak lepas dari konten video yang viral di media sosial. Kondisi itu membuat banyak pedagang dari berbagai daerah menghubungi mereka untuk menawarkan pasokan buah.


“Banyak orang dari daerah yang menelepon menawarkan dagangannya. Kalau cocok harga, kualitas barang bagus, dan harganya masuk, kami langsung suruh bawa ke sini,” jelasnya.


Pelanggan pun datang dari berbagai daerah, termasuk Bulukumba, Bantaeng, Maros, dan sejumlah daerah lainnya. Hal tersebut menunjukkan semakin luasnya jangkauan usaha Durian Viral.


Untuk saat ini, pemilik belum berencana membuka cabang karena menilai lokasi yang ada masih cukup untuk melayani pelanggan. Namun, seiring meningkatnya jumlah pembeli, mereka berencana memperluas tempat usaha.


“Ke depannya kami berencana memperluas ruko. Mudah-mudahan bisa mendapatkan tempat yang lebih luas lagi karena pembelinya semakin banyak,” katanya.


Usaha tersebut beroperasi dengan jam yang cukup panjang, mulai pukul 06.00 pagi hingga 01.00 dini hari. Panjangnya waktu operasional menjadi salah satu upaya untuk melayani pelanggan yang datang silih berganti.


Dengan semakin dikenalnya Durian Viral melalui media sosial dan tingginya permintaan masyarakat, pemilik berharap usaha tersebut dapat terus berkembang serta menyediakan lebih banyak pilihan buah berkualitas dengan harga yang terjangkau. (Tim).

Rabu, 12 Agustus 2026

TP PKK Makassar Tinjau Kebun Aku Hatinya PKK di 15 Kecamatan



Nuansa Terkini Makassar,– TP PKK Kota Makassar melakukan peninjauan langsung terhadap Kebun Aku Hatinya PKK di sejumlah kecamatan yang mengikuti perlombaan tingkat Kota Makassar. Penilaian berlangsung selama tiga hari, 11–13 Agustus 2026.


Peninjauan dilakukan dengan mendatangi langsung lokasi Kebun Aku Hatinya PKK yang tersebar di berbagai kelurahan. Tim penilai melihat kondisi kebun, pemanfaatan lahan, keberagaman tanaman, hingga pengelolaan kebun yang dilakukan oleh kader PKK bersama masyarakat.


Dalam penilaian tersebut, TP PKK Kota Makassar menghadirkan tim penilai yang berasal dari berbagai unsur yang memiliki kompetensi di bidang pertanian dan ketahanan pangan. Tim tersebut terdiri atas Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bosowa (Unibos), Dr. Amiruddin, Kepala Bidang Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Makassar, Faisal, serta Kasmawaty dari TP PKK Provinsi Sulawesi Selatan.


Ketua Bidang III TP PKK Kota Makassar, Prof. Dr. Ir. Hadijah Mahyuddin, menyampaikan bahwa penilaian Kebun Aku Hatinya PKK tidak hanya berorientasi pada perlombaan, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat sejauh mana program tersebut telah diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Menurutnya, keberadaan kebun PKK di setiap wilayah diharapkan mampu mendorong masyarakat memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif. Hal tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan keluarga.


“Program ini bukan hanya tentang bagaimana kebun terlihat bagus saat penilaian, tetapi bagaimana kebun tersebut bisa terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat,” ujarnya.


Ia menambahkan, Kebun Aku Hatinya PKK diharapkan dapat menjadi contoh nyata pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Beragam tanaman yang ditanam juga diharapkan dapat mendukung kebutuhan sehari-hari sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pangan yang beragam dan bergizi.


Ketua Pokja III TP PKK Kota Makassar, Dr. Erieka Novianti, menambahkan bahwa penilaian dilakukan dengan melihat berbagai aspek yang berkaitan dengan pengelolaan kebun. Tidak hanya dari sisi keindahan, tetapi juga keberagaman tanaman, pemanfaatan hasil kebun, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya.


“Yang kita lihat bukan hanya kebunnya bagus atau tidak, tetapi bagaimana kebun ini benar-benar hidup dan dimanfaatkan. Mulai dari tanaman pangan, tanaman yang bisa menunjang kebutuhan rumah tangga, hingga tanaman obat keluarga,” jelasnya.


Erieka berharap Kebun tersebut tidak berhenti pada penilaian, kebun diharapkan benar-benar menjadi sumber pangan keluarga, sarana edukasi masyarakat, sekaligus mendukung terwujudnya ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan.


Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Unibos, Dr. Amiruddin, menilai secara umum kebun yang dikunjungi telah mulai memenuhi harapan TP PKK dalam membangun pemanfaatan lahan produktif di tingkat masyarakat.


“Saya kira sudah sedikit ya mewakili dari apa yang diharapkan Ibu PKK selama ini. Terkait dengan pesan-pesan Ibu Ketua TP PKK Makassar tentang bagaimana membangun kebun-kebun kecil itu nanti cikal bakal untuk membangun warung hidup,” kata Amiruddin.


Ia menjelaskan, konsep Kebun PKK pada dasarnya berupaya mengintegrasikan berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari tanaman lumbung hidup, warung hidup, hingga tanaman TOGA atau Tanaman Obat Keluarga.


“Kebun PKK ini sebenarnya ingin mencoba menggabungkan kebutuhan-kebutuhan, termasuk tanaman lumbung hidup, kemudian tanaman warung hidup, kemudian tanaman TOGA yang merupakan obat-obatan. Itu tadi saya melihat secara empat kelurahan itu sudah terpenuhi,” ujarnya.


Meski demikian, Amiruddin menilai masih terdapat beberapa hal yang perlu diperkuat, khususnya dalam aspek integrasi pengelolaan kebun. 


“Keberadaan kebun dalam satu kompleks sudah terlihat, namun pengelolaannya masih perlu diarahkan agar seluruh unsur di dalamnya dapat saling terhubung. Tapi kalau untuk yang satu kompleks. Cuma untuk kebutuhan kelengkapan saja, tapi kalau integrasinya belum,” jelasnya.


Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi pengelolaan limbah sebagai bagian dari sistem pertanian berkelanjutan. Salah satu yang dinilai masih dapat dikembangkan adalah pemanfaatan limbah organik, termasuk kotoran sebagai bahan yang dapat menunjang kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.


Adapun lokasi Kebun Aku Hatinya PKK yang menjadi objek penilaian meliputi Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanaya; Kelurahan Parangloe, Kecamatan Tamalanrea; Kelurahan Bangkala, Kecamatan Manggala; Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang; Kelurahan Bonto Makkio, Kecamatan Rappocini; serta Kelurahan Kalukuang, Kecamatan Tallo.


Penilaian juga berlangsung di Kelurahan Malimongan Tua, Kecamatan Wajo; Kelurahan Barang Lompo, Kecamatan Sangkarrang; Kelurahan Timungan Lompoa, Kecamatan Bontoala; Kelurahan Labuang Baji, Kecamatan Mamajang; Kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate; Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang; Kelurahan Bara-Baraya, Kecamatan Makassar; Kelurahan Tabaringan, Kecamatan Ujung Tanah; serta Kelurahan Pannambungan, Kecamatan Mariso.


Melalui kegiatan tersebut, TP PKK Kota Makassar berharap perlombaan Kebun Aku Hatinya PKK dapat menjadi pemicu bagi setiap kecamatan dan kelurahan untuk terus mengembangkan kebun secara berkelanjutan.

Diskominfo Makassar Raih Penghargaan Public Service Of The Year 2026, Bukti Komitmen Hadirkan Layanan Digital*



Nuansa Terkini Makassar,– Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar meraih penghargaan Public Service of the Year Sulawesi Selatan 2026 dalam ajang Indonesia Marketing Festival (IMF) 2026 yang digelar oleh MarkPlus.


Hal ini membuktikan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam menghadirkan pelayanan publik yang semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi terus mendapat apresiasi. 


Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Founder MarkPlus, Hermawan Kartajaya, kepada Kepala Dinas Kominfo Kota Makassar, Muhammad Roem dalam kegiatan yang berlangsung di  Claro Hotel Makassar, Kamis (13/8/2026).


Kepala Dinas Kominfo Kota Makassar, Muhammad Roem mengatakan penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas komitmen Diskominfo Makassar dalam mendorong transformasi pelayanan publik berbasis digital.


“Penghargaan ini menjadi apresiasi atas komitmen Diskominfo Kota Makassar dalam menghadirkan layanan publik digital yang inovatif, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat,” ujar Roem.


Salah satu wujud transformasi tersebut hadir melalui Lontara+. 

Platform layanan digital Pemerintah Kota Makassar yang menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai aspirasi, pengaduan, maupun kebutuhan pelayanan secara lebih mudah dan terintegrasi.


Layanan ini menjadi salah satu upaya Pemkot Makassar untuk membangun pola komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat sekaligus mempercepat respon terhadap berbagai persoalan publik.


Menurutnya, perkembangan teknologi tidak hanya menuntut pemerintah untuk semakin cepat beradaptasi, tetapi juga mampu memastikan setiap inovasi yang dihadirkan benar-benar memberikan manfaat dan kemudahan bagi masyarakat.


Penghargaan tersebut, lanjut Roem, menjadi motivasi bagi Diskominfo Makassar untuk terus memperkuat kualitas layanan publik dengan memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari upaya menghadirkan pemerintahan yang lebih responsif dan dekat dengan masyarakat.


“Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi juga menjadi pengingat bagi kami untuk terus berbenah dan memastikan teknologi yang digunakan pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.


Indonesia Marketing Festival 2026 merupakan bagian dari agenda tahunan MarkPlus Institute dan Marketeers Event yang mempertemukan pelaku industri, akademisi, mahasiswa, praktisi. 


Serta berbagai pihak untuk membahas perkembangan industri, transformasi teknologi, pemasaran, hingga kompetensi yang dibutuhkan di masa depan.


Di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat, penghargaan yang diterima Diskominfo Makassar menjadi penanda bahwa transformasi digital di sektor pemerintahan tidak berhenti pada pemanfaatan teknologi semata tetapi terus berdampak baik bagi warga.


"Sebab, pada akhirnya, keberhasilan transformasi digital bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat," pungkasnya.  (*)




TP PKK Makassar Gelar KISAH, Perkuat Ketahanan Keluarga dan Cegah Jerat Judi Online serta Pinjaman Online



Nuansa Terkini Makassar,– Tim Penggerak PKK Kota Makassar menggelar kegiatan KISAH (Keluarga Indonesia Sejahtera dan Harmonis) dengan tema “Penguatan Ketahanan Keluarga melalui Edukasi Calon Pengantin dan Pencegahan Risiko Judi Online serta Pinjaman Online” di Auditorium Gedung TP PKK Kota Makassar, Rabu (12/8/2026).


KISAH merupakan salah satu program kerja Pokja I TP PKK Kota Makassar yang diikuti Sekretaris berserta jajaran pengurus TP PKK Kota Makassar, kader PKK kelurahan, serta pasangan calon pengantin. 


Ketua Bidang I TP PKK Kota Makassar, Kamelia Thamrin Tantu, menyampaikan kegiatan ini mengangkat pesan untuk catin fokus bangun masa depan, bukan terjerat utang.


“Kegiatan ini sebagai pengingat pentingnya membangun fondasi keluarga sejak sebelum pernikahan, termasuk dalam aspek kesehatan, ekonomi, mental spiritual, hukum, hingga pengelolaan keuangan,” ujarnya.


Ia mengatakan peran PKK memiliki cakupan yang sangat luas karena menyentuh berbagai tahapan kehidupan keluarga, mulai dari kelahiran hingga pernikahan dan pembentukan keluarga.


“Kita di PKK memang memiliki tugas yang berat karena mengurus mulai dari bayi lahir sampai meninggal. Bahkan yang menikah pun kita juga urusi. Kenapa? Karena tugas kita adalah kesejahteraan keluarga,” ujar Kamelia


Menurutnya, penguatan keluarga harus dimulai sejak calon pasangan mempersiapkan pernikahan. “Calon pengantin perlu mendapatkan edukasi dasar pranikah, mulai dari bina keluarga, bina kesehatan, bina ekonomi keluarga, bina mental spiritual, hingga bina hukum. Semuanya perlu dipersiapkan sejak awal,” jelasnya.


Selain kesehatan, Kamelia mengatakan tidak kalah pentingnya calon pengantin  membicarakan persoalan keuangan secara terbuka sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Menurutnya, pembahasan mengenai pendapatan, pengelolaan penghasilan, kebutuhan keluarga, hingga siapa yang bertanggung jawab mengatur keuangan perlu disepakati sejak awal agar tidak menjadi sumber konflik setelah menikah.


“Jangan sampai sudah menikah baru mau berbicara uangnya siapa yang pegang. Hal-hal seperti ini sangat penting dibicarakan sejak awal,” tuturnya.


Untuk itu, Kamelia menegaskan, penguatan ketahanan keluarga juga harus dibarengi dengan kemampuan mengambil keputusan keuangan secara bijak. Kehadiran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pengelolaan keuangan serta risiko berbagai aktivitas keuangan ilegal, termasuk pinjaman online ilegal dan judi online.


Kegiatan KISAH menghadirkan Asisten Manager Analisis Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen Kantor OJK Provinsi Sulawesi Selatan, Nadhilah Avissa Nashar, sebagai pemateri. Ia membawakan materi “Keluarga Bahagia, Financial Tertata: Kenali Pengelolaan Keuangan dan Waspadai Aktivitas Keuangan Ilegal”.


Dalam pemaparannya, Nadhilah menjelaskan pentingnya pengelolaan keuangan secara sederhana dalam keluarga, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, menyiapkan dana untuk kebutuhan masa depan, hingga berhati-hati terhadap tawaran keuangan yang berpotensi merugikan. Peserta juga diingatkan agar tidak mudah tergiur dengan keuntungan cepat yang dapat membawa keluarga pada masalah keuangan.


Sementara itu, pemateri kedua, Penyuluh Agama Syamsiah, menyampaikan materi mengenai penguatan ketahanan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Ia memberikan nasihat kepada calon pengantin agar membangun rumah tangga dengan komunikasi yang baik, saling menghargai, menjalankan tanggung jawab bersama, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam menghadapi berbagai persoalan keluarga.


Kegiatan tersebut, diharapkan menjadi ruang edukasi bagi calon pasangan suami istri agar memiliki kesiapan dalam membangun keluarga yang sehat, mandiri, harmonis, dan sejahtera.

TP PKK Makassar Dorong UMKM Perempuan Melek AI untuk Promosi dan Pengembangan Usaha



Nuansa Terkini Makassar,– TP PKK Kota Makassar terus mendorong peningkatan kapasitas perempuan, khususnya pelaku UMKM, melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). 


Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan bertajuk “Ibu Berdaya: Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk UMKM Perempuan” dengan tema “Belajar AI Praktis untuk Promosi, Kreativitas, dan Pengembangan Usaha.”


Kegiatan yang merupakan program kerja Pokja II TP PKK Kota Makassar ini berlangsung di Auditorium Gedung TP PKK Kota Makassar, 10–14 Agustus 2026 dan ditayangkan langsung melalui youtube TPFIPUNM.


Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi TP PKK Kota Makassar bersama BASAibu Wiki-Sulsel dan Lab Teknologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar (UNM). 


Sambutan Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri yang dibacakan Sekretaris TP PKK, Faridah Kadir mengatakan pelatihan ini bertujuan membekali para pelaku UMKM perempuan dengan pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menggunakan AI. 


Lanjutnya, perkembangan teknologi harus dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan kreativitas, memperluas promosi, hingga mengembangkan usaha secara lebih efektif.


“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan literasi AI dan digital, membuat konten promosi dengan AI, desain digital untuk UMKM, serta strategi pemasaran yang lebih kreatif. Kami ingin ibu-ibu tidak hanya mengenal AI, tetapi bisa langsung memanfaatkannya untuk usaha,” ujarnya.


Katanya, pelatihan ini bukan hanya memperkenalkan teknologi AI, tetapi memastikan teknologi tersebut benar-benar dapat digunakan untuk mendukung aktivitas usaha. 


“Pelatihan ini, para peserta diarahkan memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang selama ini dianggap sulit, seperti membuat ide promosi, menulis caption, menyusun materi pemasaran, hingga menghasilkan desain yang lebih menarik,” ujarnya.


Sementara itu, Pokja II TP PKK Kota Makassar, Dra. Andi Indrawaty menambahkan, metode praktik langsung dipilih karena sebagian besar peserta merupakan ibu-ibu pelaku UMKM yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital dalam menjalankan usahanya. Dengan praktik, peserta dapat langsung mencoba setiap tahapan dan memahami bagaimana AI bekerja sesuai dengan kebutuhan produk yang mereka miliki.


“Kalau hanya diberikan materi, mungkin ibu-ibu masih bingung. Jadi kita langsung praktik. Hari ini ibu-ibu belajar, langsung pegang dan mencoba sendiri. Kita ingin yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya tidak bisa menjadi bisa,” ujarnya.


Menurutnya, perkembangan teknologi tidak seharusnya menjadi hambatan bagi perempuan pelaku UMKM. Justru, dengan pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi alat yang memudahkan pekerjaan dan membantu pelaku usaha menghemat waktu, menemukan ide baru, serta membuat promosi yang lebih menarik tanpa harus memiliki kemampuan desain atau pemasaran yang tinggi.


“Jangan takut dengan AI. AI ini bukan untuk menggantikan ibu-ibu dalam berusaha, tetapi membantu ibu-ibu. Misalnya mau membuat promosi, bingung menulis apa, kita bisa minta bantuan AI. Mau membuat desain, mencari ide konten, semuanya bisa kita pelajari,” jelasnya.


Ia berharap, pelatihan tersebut menjadi langkah awal bagi para peserta untuk semakin melek digital dan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Dengan kemampuan yang diperoleh, pelaku UMKM diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara mandiri untuk memperbaiki kualitas produk, memperkuat promosi, memperluas jangkauan pasar, dan meningkatkan daya saing usaha di tengah perkembangan ekonomi digital.


Dalam pelaksanaannya, setiap angkatan mendapatkan materi dan praktik langsung selama dua hari. Salah satu pemateri utama, Maenuddin Bustanil Syah, S.Pd., M.Pd., Dosen Teknologi Pendidikan, memberikan materi mengenai penyusunan prompt AI untuk meningkatkan kapasitas UMKM. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai konsep AI, tetapi juga diarahkan untuk mencoba menyusun perintah yang tepat agar teknologi tersebut dapat menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan usaha.


Maenuddin menjelaskan, kemampuan menyusun prompt menjadi salah satu keterampilan penting dalam pemanfaatan AI. Dengan instruksi yang jelas dan spesifik, pelaku UMKM dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun ide konten, membuat narasi promosi, menentukan konsep desain, mengenali target pasar, hingga mengembangkan strategi pemasaran. Pendekatan praktik tersebut diharapkan membuat peserta lebih percaya diri menggunakan teknologi AI dalam aktivitas usaha sehari-hari.


Kolaborasi dengan BASAibu Wiki-Sulsel dan Lab Teknologi Fakultas Ilmu Pendidikan UNM turut membantu pelaku UMKM perempuan memahami dan mempraktikkan pemanfaatan AI secara langsung. Peserta dibimbing menggunakan AI untuk mencari ide konten, menyusun prompt, membuat materi promosi, mendesain produk, hingga mengembangkan strategi pemasaran yang lebih kreatif dan efektif.


Melalui metode praktik langsung, peserta diharapkan mampu menerapkan teknologi AI dalam kegiatan usaha sehari-hari, sehingga dapat meningkatkan kreativitas, kualitas promosi, dan daya saing produk UMKM.

Selasa, 11 Agustus 2026

Bunda PAUD Makassar Temui Direktorat PAUD, Perkuat Sinergi Pengembangan Layanan Anak Usia Dini

 


Nuansa Terkini Jakarta,— Bunda PAUD Kota Makassar, Melinda Aksa, melakukan audiensi bersama Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Gedung E Kemendikdasmen, Rabu (12/8/2026).


Turut hadir Direktur PAUD Kurniawan, Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD Abdul Kahar, Kepala BBPMP Sulawesi Selatan Imran, Ketua Tim Kerja Wajib Belajar 13 Tahun Dona Paramita.


Sementara dari Kota Makassar, Bunda PAUD Kota Makassar Melinda Aksa didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Achi Soleman, Kepala Bidang PAUD PNF Yasmain Gasba, Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Makassar Titin Florentina, Wakil Ketua Pokja Bunda PAUD Herlina, serta jajaran pengurus Pokja Bunda PAUD dan Dinas Pendidikan Kota Makassar.


Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pemerintah pusat dan daerah dalam peningkatan kualitas layanan PAUD, termasuk implementasi Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan serta penguatan kapasitas Bunda PAUD di tingkat kecamatan dan kelurahan.


Dalam kesempatan tersebut, Melinda bersama jajaran memperkenalkan “Jelajah Langkah Bunda PAUD Kota Makassar”, yang merangkum perjalanan penguatan PAUD selama Juni 2025 hingga Juli 2026 dengan tema “Menguatkan Fondasi, Menumbuhkan Generasi.”


Melinda mengatakan, perjalanan tersebut tidak hanya sebagai rangkuman kegiatan, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana berbagai langkah yang dilakukan saling terhubung dan bermuara pada peningkatan pengalaman tumbuh dan belajar anak.


“Semua kebijakan, program, pelatihan, pembangunan sarana, maupun kolaborasi pada akhirnya harus kembali pada satu pertanyaan: apa manfaatnya bagi pengalaman tumbuh dan belajar anak? Karena itu, sepanjang perjalanan ini kami berusaha agar penguatan PAUD tidak hanya terlihat pada program, tetapi juga semakin terasa di ruang belajar anak,” ujar Melinda.


Selama satu tahun tersebut, penguatan dilakukan dari berbagai sisi, mulai dari tata kelola, PAUD satu tahun pra-SD, peningkatan kapasitas pendidik, pendidikan inklusif, perlindungan dan gizi anak, PAUD Holistik Integratif, hingga Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Keseluruhan langkah itu diarahkan menuju satu semangat, yakni “PAUD Bermutu untuk Semua.”


Ketua Pokja Bunda PAUD Kota Makassar, Titin Florentina, yang memaparkan perjalanan Bunda PAUD selama setahun terakhir mengatakan, berbagai langkah yang telah dilakukan sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagian-bagian yang masih perlu diperkuat.


“Perjalanan satu tahun ini memberi kami banyak pembelajaran. Kami melihat apa yang sudah berjalan baik, apa yang masih perlu diperkuat, dan bagaimana peran Bunda PAUD bisa terus hadir untuk menghubungkan berbagai pihak. Yang terpenting, setiap langkah yang dilakukan harus benar-benar bermuara pada layanan yang semakin baik bagi anak-anak kita,” ujar Titin.


Paparan tersebut mendapat respons positif dari Direktur PAUD Kurniawan. Menurutnya, apa yang telah dibangun di Kota Makassar menunjukkan bahwa penguatan PAUD telah bergerak dalam arah yang sama dengan tujuan yang saat ini didorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.


“Kami tentu mengapresiasi apa yang sudah dilakukan di Kota Makassar. Apa yang tadi disampaikan menunjukkan bahwa arah yang dibangun sudah sejalan dengan tujuan yang sedang kita dorong bersama, yaitu bagaimana menghadirkan layanan PAUD yang semakin bermutu dan dapat dirasakan oleh setiap anak,” ujar Kurniawan.


Menurutnya, komitmen yang telah dibangun di daerah perlu terus dijaga agar berbagai program tidak berhenti sebagai kegiatan, tetapi berkembang menjadi praktik yang berkelanjutan dan memberikan dampak langsung terhadap anak.


Sementara itu, Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD, Abdul Kahar, mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Makassar terhadap pendidikan. Menurutnya, kepedulian pemerintah daerah terhadap pendidikan merupakan bagian penting dalam mempersiapkan masa depan suatu wilayah.


“Ketika satu daerah sudah peduli terhadap pendidikan, itu pertanda peduli terhadap masa depan wilayah tersebut. Yang menentukan kemajuan suatu bangsa adalah pendidikan. Sangat beruntung wilayah yang pimpinannya memang peduli terhadap pendidikan,” ungkap Abdul Kahar.


Melinda menambahkan, berbagai capaian yang disampaikan dalam audiensi tersebut tidak terlepas dari kerja bersama Pokja Bunda PAUD, Bunda PAUD Kecamatan dan Kelurahan, satuan pendidikan, Pemerintah Kota Makassar, para pendidik, keluarga, organisasi mitra, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.


“Peran kami adalah berusaha mempertemukan berbagai kekuatan tersebut agar kebutuhan anak dapat dilihat secara lebih utuh. Karena semakin banyak pihak yang memiliki kepedulian yang sama, semakin kuat pula lingkungan yang kita siapkan bagi anak-anak Makassar,” tutur Melinda.


Audiensi ini diharapkan semakin memperkuat komunikasi dan sinergi antara Bunda PAUD Kota Makassar, Pemerintah Kota Makassar, dan Direktorat PAUD Kemendikdasmen dalam menghadirkan layanan pendidikan anak usia dini yang semakin berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.


Bagi Bunda PAUD Kota Makassar, perjalanan satu tahun tersebut juga menjadi pijakan untuk melanjutkan penguatan yang telah dimulai. Sebab, memperkuat PAUD bukan tentang menyelesaikan satu program, melainkan memastikan setiap anak mendapatkan awal yang semakin baik untuk perjalanan hidupnya. (*)

Ketua Dekranasda Makassar Hadiri Weaving Archipelago, Dorong Pengembangan Tenun sebagai Warisan dan Kekuatan Ekonomi Kreatif

 


Nuansa Terkini Jakarta,— Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar, Melinda Aksa, menghadiri Weaving Archipelago, yang digelar dalam rangkaian Senayan City Glorify Indonesia, di Promenade Ground Floor Senayan City, Jakarta, Rabu (12/8/2026).


Kegiatan yang dihadirkan Senayan City bersama Cita Tenun Indonesia tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman tenun dari berbagai daerah sekaligus menunjukkan bagaimana warisan tekstil Nusantara dapat terus berkembang dan menemukan relevansinya di tengah industri kreatif masa kini.


Dalam kesempatan tersebut, Melinda Aksa meninjau langsung berbagai karya tenun yang ditampilkan. Ia juga berdiskusi dengan sejumlah penggiat wastra mengenai karakter kain, motif, teknik pengerjaan, hingga perjalanan pengembangan tenun dari tangan perajin menuju produk yang memiliki nilai tambah.


Kegiatan ini dibuka oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan tenun Indonesia melalui penguatan ekosistem yang mampu mempertemukan pelestarian budaya dengan kreativitas dan peluang ekonomi.


Tenun, menurutnya, tidak hanya memiliki nilai sebagai produk ekonomi kreatif, tetapi juga membawa pengetahuan, cerita, identitas, dan keterampilan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, pengembangannya perlu terus didorong agar para perajin memperoleh ruang untuk bertumbuh, sementara kekayaan budaya yang melekat di dalamnya tetap terjaga.


Semangat tersebut sejalan dengan kerja Cita Tenun Indonesia yang selama ini berfokus pada pelestarian tenun Nusantara, pembinaan dan pengembangan perajin, serta perluasan pemasaran produk tenun. Upaya ini mendorong tenun untuk tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus hidup melalui inovasi dan mampu hadir dalam kebutuhan serta gaya hidup masyarakat masa kini.


Bagi Melinda Aksa, kunjungan ini sekaligus membuka ruang untuk melihat berbagai pendekatan yang dapat dikembangkan dalam memperkuat ekosistem kerajinan di Kota Makassar.


“Yang menarik adalah bagaimana sebuah kain tidak hanya ditampilkan sebagai produk jadi. Ada cerita tentang daerah, keterampilan perajin, proses kreatif, sampai bagaimana karya itu diperkenalkan kepada pasar. Hal-hal seperti inilah yang perlu terus kita kuatkan,” ujar Melinda.


Ia menilai Sulawesi Selatan memiliki kekayaan wastra dan tradisi kerajinan yang sangat kuat. Potensi tersebut perlu terus dijaga sembari membuka ruang yang lebih luas bagi perajin untuk mengembangkan kualitas produk, desain, regenerasi keterampilan, serta akses terhadap pasar.


Menurut Melinda, pengalaman dari Weaving Archipelago dapat menjadi salah satu referensi bagi Dekranasda Kota Makassar dalam mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada promosi produk, tetapi juga pada penguatan perajin dan keberlanjutan pengetahuan di balik sebuah karya.


“Kita ingin kerajinan daerah terus bertumbuh tanpa kehilangan identitasnya. Tradisinya tetap kita jaga, tetapi perajinnya juga harus berkembang, produknya semakin kuat, dan pasarnya semakin luas. Dari ruang seperti ini kita bisa melihat banyak kemungkinan yang nantinya dapat kita adaptasi dan kembangkan di Makassar,” pungkasnya.


Ke depan, Dekranasda Kota Makassar akan terus mendorong kolaborasi dan membuka ruang pengembangan bagi kerajinan lokal, termasuk wastra, agar semakin dikenal serta mampu menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.


Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memperluas peluang ekonomi bagi para perajin, tetapi juga memastikan keterampilan, cerita, dan identitas budaya yang terkandung dalam setiap karya dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)